Popular Post

Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Legenda Putri Pinang Masak

By : Story Liner
Pada zaman dahulu, di belakang Dusun Pasir Mayang, ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu Putri Reno Pinang Masak. Putri ini terkenal dengan kecantikannya yang menawan hati. Tak mengherankan banyak raja dan putra raja yang menghendaki mempersuntingnya. Namun tak seorang pun raja atau putra raja yang meminang yang diterimanya. Semua pinangan ditolaknya.
Disamping cantik, putrid ini terkenal pula berbudi luhur, arif serta bijaksana. Kebijaksanaannya dipuji-puji oleh rakyatnya. Ia adil dan jujur, rakyatnya yang miskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum. Yang kaya, diberi luang dan kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Golongan rakyatnya yang kaya ini kelak harus pula menjamin kelangsungan hidup bagi yang miskin. Dengan demikian terdapat suasana yang harmonis antara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.
Dalam menjalankan pemerintahannya, sang ratu dibantu oleh tiga orang huluibalang yang baginda percayai. Hulubalang yang pertama bernama Datuk Raja penghulu, terkenal sebagai orang arif dan bijaksana yang kedua bernama Datuk Dengar Kitab, seorang hulubalang yang mempunyai keistimewaan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang akan dating melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang yang ketiga ialah datuk Mangun, bertugas sebagai panglima perang kerajaan.
Kecantikan Putri Reno Pinang terdengar pula sampai ke telinga raja Jawa. Lama-kelamaan raja negeri Jawa lalu mengirim utusan untuk melamar sang putri. Ternyata lamaran tersebut ditolak oleh Putri Reno Pinang Masak. Raja Jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak dengan tegas. Timbuillah kemudian tekad raja Jawa untuk bersumpah bagaimanapun akan mengambil Putri Reno Pinang Masak dengan cara kekerasan.
Putri Retno Pinang Masak tidak takut sama sekali akan ancaman raja negeri Jawa yang telah mabuk kepayang itu. Bahkan baginda ratu sangat gemas dan geram. Baginda memandang gelagat raja Jawa tadi sebagai yang akan merusak kedaulatan negertinya. Oleh sebab itu baginda memanggil ketiga hulubalang serta mengumpulkan rakyat negerinya. Bersama-sama dicarilah bagaimana cara untuk raja jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Mencari jalan yang sebaik-baiknya melalui pemikiran, musyawarah dan mufakat. Akhirnya didapatkan suatu cara yang telah disepakati bersama dalam perundingan tersebut. Negeri diberi berparit. Di samping itu harus dipagar pula dengan bambu berduri. 
Bambu yang dahan dan rantingnya harus berduri. Maka dicarilah tumbuhan tersebut. Setelah dapat maka segera ditanam berlapis-lapis, sebagai pagar negeri untuk menghalangi supaya tentara Jawa jangan masuk. Pagar inilah nanti sebgagai benteng pertahanan. Negeri Limbungan sudah dilingkupi dengan pagar bamboo berduri. Untuk keluar masuk hanya ada sebuah gerbang. Di pintu masuk, ini telah menunggu Datuk. Mangun beserta anak buahnya.
Raja Jawa beserta tentaranya datang jalan satu-satunya untuk memasuki Limbungan adalah sebuah gerbang yang dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Ke sanalah raja Jawa mengarahkan serangan. Terjadilah pertempuran yuang sengit. Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Datuk Mangun yang didapingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh. Tentara Jawa perkasa mundur dengan menderita korban besar.
Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Maka diadakan perundingan dicari akal melalui pikiran orang banyak. Maka dapatlah suatu akal tipu muslihat. Dikumpulkan semua uang ringgit logam. Uang logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan ke setiap rumpun bambu yang berlapis-lapis tadi. Ditembakkan berulang-ulang, sepuas-puas hati tentara Jawa, sehingga uang ringgit logam itu beronggokan di celah pohon bamboo berduri tersebut. Kemudian raja Jawa beserta tentaranya pun pergilah kembali.
Dalam pada itu ada seorang penduduk negeri Limbungan tidak disengaja, bersua dengan onggok-onggokan uang ringgit logam itu sepanjang edaran pagar bamboo negeri. Melihat uang logam itu sangat banyak terniat di hatinya untuk memberitahukan hal tersebut kepada baginda ratu. Lalu diambilnya sebuah untuk diperlihatkan kepada sang ratu di istana.
Dimana engkau dapat ringgit logam itu, Datuk?” Tanya baginda ratu penuh keheranan.
“Di rumpun-rumpun bamboo benteng pertahanan kita. Tuanku!” jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya.”
“Baiklah!” kata sang ratu pula. “Aku yakin Datuk tidak berbohong. Mari kita lihat!”
Benar saja! Ratu menemukan uang ringgit logam bertumpukan di sela-sela rumpun bamboo. Maka setelah dirundingkan dengan semua orang diputuskan untuk mengambil semua uang logam tersebut. Untuk memudahkan pengambilannya, pohon-pohon bamboo itu pun ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke istana. Pada saat itu pula ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke Istana. Pada saat itu pula raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu dengan tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tak ada lagi pasukan negeri Jawa dengan mudah masuk negeri Limbungan. Tentara beserta rakyat Limbungan tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu.
Putri Retno Pinang Masak sadar akan kesalahannya. Ia sangat menyesal akan kealpaannya. Dengan rasa masygul diam-diam pergilah baginda seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya.
Ternyata kemudian tahu jugalah rakyat bahwa ratunya sudah tidak ada lagi di istana. Negeri Limbungan menjadi gempar. Berusahalah rakyat mencari kemana mana. Ada yang mencari ke hulu, ada yang ke hilir, ada pula yang mencari ke darat dank e baruh (pinggir sungai). Bahkan ada yang mencari sampai ke tepi laut. Namun ratu mereka tak kunjung bersua.
Akan halnya ketiga hulubalangnya, Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, serta Datuk Mangun bermufakat ketika itu untuk bersama-sama mencari ratu Putri Reno Pinang Masak. Mereka masuk hutan keluar hutan. Bila bertemu dengan seseorang mereka tak jemu bertanya. Namun yang dicari tak kunjung bertemu. Maka mereka lanjutkan pula perjalanan. Lurah diturun, bukit di daki. Semak-semak disinggahi kalau-kalau ada putrid Reno Pianang Masak, atau mayatnya. Ketiga hulubalang itu bertekad berpantang berbalik, pulang sebelum yang di cari bersua hidup atau mati. Kalau perlu nyawa mereka sebagai taruhannya.
Sementara itu seorang petani desa Tenaku sedang berada di rumahnya. Ia baru saja selesai bekerja menyiangi rumput hari baru tengah hari, petani itu akan beristirahat ke pondoknya. Menjelang ia sampai ke pondoknya ia sangat terkejut, di mukanya di udara yang cerah dilihatnya melayang-layang sepotong upih pinang. Kemudian upih tersebut jatuh tak berada jauh dari tempatnya berdiri. Ia sangat heran mengapa ada upih pinang di humanya. Kalau itu upih pinang yang ada di desanya, taklah mungkin sejauh itu, diterbangkan angina. Dalam keheranan, petani itu bergegas menuju ke tempat upih jatuh tadi. Sesampai di sana ia sangat terkejut. Dilihatnya sesosok tubuh wanita cantik tergeletak memucat yang dilihatnya itu tak dikenalnya. Ia cukup hapal semua penduduk desanya. Apalagi orang yang sudah dewasa seperti yang dilihatnya. Di baliknya sebentar. Memang wajah yang tak dikenalnya sama sekali. Maka diputuskannyalah untuk memberitahukan penduduk desanya.
Ternyata semua penduduk desa Tenaku sama dengan petani tersebut tak juga mengenal siapa gerangan orang yang meninggal secar aneh itu. Semua yang hadir menjadi gempar. Mereka saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Di saat demikian maka dipanggil seorang dukun.
Dukun telah datang. Ia segera membakart kemenyan. Setelah itu dibacanya jampi-jampi ramalan. Dalam waktu yang singkat dapatlah diketahuinya siapa gerangan mayat yang berbaring di huma itu.
“Jenazah yang kita temui ini “Katanya mengabarkan kepada orang banyak yang mengelilinginya. “Jenazah yang melayang jatuh dari udara bagaikan upih pinang ini adalah jenazah Tuan Putri Reno Pinang Masak raja negeri Limbungan!”
Mendengar ramalan dukun tersebut semua orang yang hadir sangat terkejut. Suara bergumam berdengung bagai suara lebah terbang. Wajah-wajah yang keheranan segera berubah menjadi suram dan sedih. Terbayang kepada orang banyak itu betapa sengsaranya tuan baginda ratu negeri pada saat-saat terakhir hidupnya.
Pada saat itu juga diambil keputusan untuk memakamkan sang putrid di huma di desa Tenaku itu. Sang ratu dimakamkan secara sederhana tanpa disaksikan rakyatnya. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap rakyat dan negerinya sudah berakhir. Sampai sekarang makam di desa Tenaku tersebut dinamakan “Makam Upih Jatuh”.
Lama-kelamaan ketiga hulubalang yakni Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun sampai pula ke tempat Putri Reno Pinang Masak dimakamkan. Setelah mereka ketahui bahwa itu adalah makam baginda ratu Puteri Reno Pinang Masak, tiba-tiba saja mereka jatuh pingsan dan terus meninggal. Ketiga hulubalang itu dimakamkan pula di sana di samping makam Puteri Reno Pinang Masak. Sampai sekarang makam keempat orang tersebut masiha dan dikeramatkan orang pula.
 
Posted by : Admin ST-Rex
Tag : , ,

Chinese Zodiac Legend

By : Story Liner



Many stories and legends tell the origin of the Chinese zodiac or Chinese horoscope (shēngxiào - 生肖), but the most well-known (and also most fun) one states that the Jade Emperor invited the entire animal kingdom to partake in a tremendous race! The first 12 animals able to cross the river, would be assigned to a year of the Chinese zodiac system in order of appearance.

All the animals were very excited and the news spread rapidly. On the day of the race all the animals gathered at the bank of the river. Rat, although the smallest animal in the zodiac system, won the race. It would seem rather unlikely that such a small animal would win this race, don’t you think?

Well, Rat, although very small and not a good swimmer at all, used his brain and played a little trick! He convinced Ox that together they would have a better chance of winning. Ox being very strong and Rat gifted by a marvelous sight would be a winning team! So, Rat hopped on the back of Ox. When they neared the other side of the river however, Rat quickly jumped ahead and was named first animal of the Chinese zodiac, followed by Ox, who came in second. Tiger claimed third prize. Although it was difficult to cross the river, Tiger made it thanks to his strength. Following closely was Rabit, who had crossed the river by jumping from one stone to the other. Dragon, who was expected to finish first, had to stop to make rain to help all the creatures on earth and came in fifth place. Then, a galloping sound was heard and Horse arrived. Snake, hidden in the hoof of Horse, suddenly appeared, scared Horse and was named 6th animal. Horse ended 7th.

After that, Goat, Monkey and Rooster reached the shore. By working together they were able to cross the river. Very satisfied by this teamwork, the Jade Emperor assigned Goat as the 8th animal of the cycle, Monkey as the 9th and Rooster as the 10th. Dog became the 11th animal, since he couldn’t resist to play a little bit longer in the river before crossing it. Finally, the last to arrive was Pig. He got hungry during the race and stopped to grab a quick bite, but fell asleep afterwards. And this is how the Chinese zodiac was formed.

Why Cat & Mouse become Sworn Enemies

 

Cat and Rat where the best of friends, the kind of friends that spends almost every waking hour together. Both were very excited about the news of the great race and immediately started to make plans to cross the river. On the day of the race, Cat wanted to take a little nap before partaking in the race, since it would ask a lot of effort and would therefore be very exhausting. Winning this race, however, was the only thing Rat could think about. So, instead of waking up Cat, Rat silently sneaked out and spurred to the shore of the river. After enjoying his splendid nap in the sun, Cat woke up to discover the race was already over and Rat had finished first. He was devastated and furious at the same time and swore to hate Rat forever. That is why Cat chased after Rat…and cats all over the world nowadays still do.

Posted by : Admin ST-Rex
Source : http://www.hutong-school.com/origin-chinese-zodiac-why-cats-and-rats-are-sworn-enemies
Gallery :



Tag : , ,

Chinese New Year Legend

By : Story Liner
年 (Nian, Year)
There are many legends that are part of the Chinese culture. Many of them exemplify moral lessons, not so different from Aesop and his fables. One story in particular is the story of Chinese New Years.
Long ago in the mountains, there lived a horrible demon creature named Nian. Every year, on the first day of the year, the creature would awaken and descend upon the village. He would eat all the grain and livestock. And if there were any unfortunately children stuck outside, they would disappear.

The villagers lived in fear of this beast and boarded up their houses on this night to protect their families. One year, right before this event was to occur, an old man visited the village. He turned to the villagers and asked, "Why do you fear this creature such? You are many and he is but one. Surely he could not swallow all of you."

But the villagers remained skeptical and locked themselves up anyway. That night, Nian did not come. The old man had ridden him until dawn and the creature went back to its cave hungry. This went on for several nights until the old man revealed, "I cannot protect you forever."

He turned out to be a god and had to return to his duties elsewhere. The villagers were terrified that once the old man left, they would once again see Nian return.

So the old man informed them, "The beast is easily scared. He does not like the color red. He fears loud noises and strange creatures. So tonight, spread red across the village. Hang red signs on every door. Make loud noises with drums, music, and fireworks. And to protect your children, give them face masks and lanterns to protect them."

The villagers did as the old man instructed and Nian never returned again.

In Chinese, the word for New Years is Guo Nian. Literally translated it means to "pass over Nian" or "overcome Nian". That is exactly what the villagers did.

It has become a tradition that part of New Years celebration is to hang lots of red decoration in your house. Streets are filled with music, loud drums, and fireworks all day long. And special paper lanterns are made in a variety of shapes and sizes, paraded through the streets to scare off any demons that might come.

Thus ends the story of Chinese New Years or Guo Nian.

Posted by : admin ST-Rex
source      : http://www.chinesenewyearfestival.org/culture/19-the-story-of-chinese-new-year-
Tag : , ,

The Pied Piper of Hamelin

By : Story Liner
Once upon a time there was a town called Hamelin. Hamelin was a prosperous town. It was a port town on the River Weser.
Barges full of corn would come down the River Weser and unload at Hamelin. There were silos full of corn in Hamelin.
Barges full of wheat would come up the River Weser and unload at Hamelin. There were silos full of wheat in Hamelin.
With the silos full of corn and wheat came mills for grinding the corn and wheat, bakeries for baking bread and cakes, shops for selling the bread and cakes and, of course, people for eating. The people were so prosperous and busy loading and unloading, milling, baking and eating that they didn't notice all the litter and rubbish that was accumulating in the streets and, of course, with the rubbish came the rats.
There were rats everywhere in Hamelin - rats in the corn silos, rats in the wheat silos, rats in the bakeries, rats in the shops, rats in the streets, and rats in the houses. The rats bred and grew and grew and bred and soon there were so many rats that life became quite miserable for the citizens of Hamelin. They couldn't bake a cake, take a bath, or sleep in their beds without the rats joining in. The rats even nibbled on the ears of babies sleeping in their cots.
Something had to be done.
The people of Hamelin made their way to the Town Square and knocked on the big brass doors of the Town Hall and demanded to know what the Lord Mayor was doing about the rats. The Lord Mayor appeared on the balcony in his black robes and gold chains and made a speech.
"Good citizens of Hamelin you may rest assured that what needs to be done is being done. Don't you worry about that."
The good citizens of Hamelin weren't too sure about that but they went home to their houses to see what would be done. But nothing was done. There was just as much rubbish in the streets and just as many rats in the mills, the bakeries, the shops and the houses. In fact there were more rats. The rats kept growing and breeding and breeding and growing and eating and eating and eating.
They ate anything they could get their teeth on. Nothing or no one was safe from the rats.
The people were angry and marched to the Town Square and pounded on the big brass doors and demanded to know exactly what the Lord Mayor was going to do. When no Lord Mayor appeared on the balcony. The people started to chant -
"No rats!" "No rats!" "No rats!" "No rats!"
Finally the Lord Mayor appeared on the balcony in his black robes and gold chains and announced somewhat nervously that he had a definite plan of action.
"Good citizens of Hamelin you will pleased to know that I, the Lord Mayor, have given orders that a large hole in the ground will be dug on the outskirts of Hamelin and into that hole will be swept all of the rubbish in the streets and all of the rats that can be found and killed. Soon Hamelin will be clean and clear of rats."
Soon the large hole in the ground was full of stinking rubbish and the bodies of dead rats and hurriedly covered over with dirt. But it was not enough, there were too many rats in too many hiding places all over the town and too much food for them in the silos and bakeries and shops and houses and they grew and bred and bred and grew just as fast as before. And now with the rats came a plague of fleas. And with the fleas came a strange sickness. Some children and old people had already died. A plague was on Hamelin!
As you can imagine the people of Hamelin were even angrier. They marched once more to the town square. Each of them carried with them a dozen dead rats as proof of the failure of the Lord Mayors plan. They threw the rats in a pile in the middle of the square and from a pole they hung an effigy that looked remarkably like the Lord Mayor in his black robes and his gold chains. They started chanting -
"No Rats or no Mayor!" "No Rats or no Mayor!" "No Rats or no Mayor!"
When the Lord Mayor did come out on his balcony, he was surrounded by his Councillors and he announced rather nervously that the council had, in view of the rather desperate situation, agreed to offer a magnificent reward of one thousand gold guilders to any person who could rid the town of the rats.
The very next day a stranger appeared in Hamelin. He was different to everyone else. His clothes were colourful and seemed to come from many different places. He wore a hat covered with feathers and shells and bones. From a long scarf hung a silver pipe.
The stranger followed the carts up from the port and he saw the silos full of corn and the silos full of wheat and the mills and bakeries and shops and houses and people and rubbish and the rats.
He walked quietly to the Town Square and knocked on the big brass doors of the Town Hall. He told the Mayor and his councillors that, for a thousand gold guilders, he could rid Hamelin of the rats that infested it. The Mayor enthusiastically agreed and the Pied Piper stepped outside.
He stood in the Square and looked quietly around. He took a deep breath and blew a note on his silver pipe that spoke to the rats of far off places, of woods and forests and rocks and mountains. He blew another note that spoke to the rats of foxes and wolves with sharp teeth and hawks and eagles with cruel talons. He blew a third note and all of the rats in Hamelin started to scurry towards the Pied Piper. They scurried out of doors, out of the windows, out of drains and out of holes. They scurried down the lanes and streets towards the square. Now the Pied Piper started to play a dancing tune and he danced out of the square and the rats followed along behind. They moved out of the town and towards the port. At the river side the Piper stopped and he placed just one toe in the water and, as he continued playing, the rats continued dancing across the wharves and into the river. Rats by their thousands danced out of the town, across the wharves and splashed into the river where they were drowned. When the last one had disappeared beneath the waters of the Weser, the Pied Piper stopped.
He stood quietly looking at the water for a while and then turned and walked back to the Town Square. The good people of Hamelin were celebrating the victory against the rats. At last they were free of the pestilence. The Lord Mayor and all of his Councillors were up on their balcony slapping each other on the back and making speeches. The Pied Piper waited for a quiet space and asked for his one thousand gold guilders.
The Mayor called out so everyone could hear, "A thousand gold guilders? How could you have possibly earned a thousand gold guilders? Why, everyone saw how, while the rats were drowning themselves in the river, all you did was dance about and play on that silly little pipe of yours. Here, be satisfied with forty guilders and think your self lucky at that."
To the shame of the people of Hamelin they agreed with their Mayor and laughed at the Pied Piper as he walked quietly out of the town.
The next day was a religious feast and all of the adults were in the church as he walked back into the town. He stood quietly for a while in the Town Square and then took a breath and played a note that spoke to the children of far away places, clean air and sparking rivers. He blew another note that spoke to the children of fun and games and whales and dolphins and bright coloured parrots. He blew a third note and all of the children started to run and jump and skip out of the houses towards the Town Square. As they ran and jumped and skipped towards him the Pied Piper started to dance out of the square towards the port.
The adults in the church heard all of the children go past and they rushed out of the church to see what was happening. They called out to the children to stop and to come back but it was like they could no longer hear their parents' voices. The parents were relieved when they saw the Pied Piper turn away from the river and dance with the children towards the mountain. Their relief turned to horror though when a small door appeared in the side of the mountain and first the Pied Piper and then the children started to run and jump and skip inside.
The parents ran up to stop them but it was too late. All of the children, bar one boy who was hopping along on crutches and couldn't keep up, disappeared inside the mountain and the small door slammed shut so tightly that no one could tell exactly where it had been.
The people raced up with shovels and picks and started furiously digging holes in the mountain side but it was all to no avail.
The small boy on crutches tried to tell them of the sounds of far away places, clean air and sparking rivers and fun and games and whales and dolphins and bright coloured parrots but no one seemed able to hear.
In time the people got over their shock and life started to go on again. Barges full of corn came down the River Weser and unloaded at Hamelin. Soon there were silos full of corn once again in Hamelin.
Barges full of wheat came up the River Weser and unloaded at Hamelin. There were silos full of wheat once again in Hamelin but they never forgot the Pied Piper and they always paid their debts in full and on time.


By: Admin-Foztine
Tag : , ,

Semut dan Tonggeret

By : Story Liner


Semut & Tonggeret
   Pada zaman dahulu... di siang hari yang terik, seekor tonggeret bernyanyi-nyanyi di dahan pohon. Di bawah, dilihatnya barisan semut mengangkut butir-butir beras. “Mengapa kalian bekerja begitu keras ?” tanya tonggeret. “Berteduhlah dulu dari terik matahari. Mari kita bernyanyi bersama-sama.” Semut-semut yang tak kenal lelah itu terus saja bekerja.
   “Tidak bisa,” jawab mereka. “Kami harus menyimpan makanan untuk persediaan selama musim dingin.”
   “Ah, musim panas masih panjang,” sahut tonggeret. “Masih banyak waktu untuk mengumpulkan makanan sebelum musim dingin tiba. Aku lebih senang berdendang dulu. Bagaimana kita bisa bekerja di bawah terik matahari sepanas ini !”
   Sepanjang musim panas tonggeret terus bernyanyi, dan semut bekerja. Musim gugur tiba. Daun-daun mulai rontok. Tonggeret meninggalkan dahan yang kini meranggas. Suatu pagi, ia terbangun dengan menggigil kedinginan.
   Musim dingin akhirnya tiba. Tonggeret tertatih-tatih kian kemari mencari makanan. Ia makan beberapa ranting kering, yang tersisa di tanah yang keras membeku. Lalu, salju pun turun. Tonggeret tidak menemukan apa-apa yang dapat dimakannya.
   Pada suatu sore, ketika hari sudah gelap, ia melihat secercah cahaya di kejauhan. Dengan langkah tersuruk-suruk ia menyeberangi salju yang tebal untuk mendekati cahaya itu .Ia mengetuk pintu
 “Tolong, bukakan pintu. Aku kelaparan. Berilah aku makan !” Seekor semut melongok dari jendela.
 “Siapa ? Siapa itu ?”
 “Aku tonggeret.Aku kedinginan dan kelaparan, dan tidak punya tempat berteduh.”
“Tonggeret ? Oh, ya aku ingat. Waktu itu kami sedang bekerja keras untuk menghadapi musim dingin. Apa kerjamu selama itu ?”
“Kerjaku ? Wkatu itu aku bernyanyi. Angkasa dan bumi kupenuhi dengan nyanyianku.”
“Bernyanyi, ya ? “ sahut semut.”Nah, sekarang cobalah menari !”

The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Pemain Musik Kota Bremen

By : Story Liner

Pemain Musik Kota Bremen
   Dahulu kala... seekor keledai tua diperlakukan secara kasar oleh tuannya. Karena tidak tahan menanggung penderitaan itu, ia memutuskan untuk kabur. Keledai mendengar bahwa di Bremen dicari penyanyi-penyanyi untuk kelompok musik kota itu. Keledai merasa ringkikannya cukup bagus, maka ia yakin pasti diterima.
   Ditengah jalan ia bertemu dengan seekor anjing kurus. Keledai mengajak anjing itu, “ Ayo, ikut aku ! Engkau pasti diterima, asalkan engkau dapat menggonggong dengan baik !”
   Beberapa waktu kemudian, ikut bergabung juga seekor kucing tua yang sudah tidak gesit lagi. Tiga sekawan ini meneruskan perjalanan ke kota. Di depan sebuah rumah pertanian, mereka bertemu dengan seekor jago yang sedang memekikkan kokoknya ke langit.
“Bagus benar kokokmu ! Mengapa engkau begitu gembira ?”
“Gembira ?” sahut jago itu dengan mata berlinang-linang .”Aku akan direbus dan dimasak menjadi gulai. Maka, hari ini aku ingin menyanyi sepuas hati karena besok aku sudah mati !” Keledai berkata kepadanya, “ Ayo, kabur saja bersama kami! Dengan suaramu yang bagus engkau akan menjadi terkenal di Bremen !”
   Jumlah mereka menjadi empat sekarang. Perjalanan masih jauh dan malam segera tiba. Mereka sangat ketakutan. Mereka berada di sebuah hutan lebat.
   Tiba-tiba di kejauhan terlihat cahaya. Cahaya itu datang dari sebuah pondok. Perlahan-lahan mereka merangkak mendekati jendela pondok itu. Keledai menumpangkan kaki pada ambang jendela. Anjing melompat ke punggung keledai,sedangkan kucing naik ke punggung anjing. Jago terbang, lalu bertengger di atas kucing. Keempat binatang ingin melihat apa yang ada di dalam.
   Pondok itu ternyata tempat persembunyian segerombolan perampok. Mereka sedang berpesta pora untuk merayakan rampokan mereka. Keledai dan ketiga sahabatnya menjadi sangat bersemangat ketika mereka melihat makanan di meja.

   Kepala keledai melongok masuk ke dalam jendela sehingga kawan-kawannya terlempar menimpa lampu. Lampu padam. Ruangan menjadi gelap dan gaduh, keledai meringkik karena hidungnya luka tergores kaca, anjing menyalak dan kucing memeong. Jago pun berpetok-petok.
   Para perampok terkejut, lalu lari sambil berteriak, “Hantu ! Hantu !” Keempat binatang itu melahap sisa makanan sampai kenyang.
   Selanjutnya, ketika empat sekawan itu tertidur, salah seorang perampok kembali dengan mengendap-endap ke pondok itu untuk melihat apa yang terjadi. Ia membuka pintu, lalu masuk, dan melangkah menuju perapian sambil menggenggam pistol. Ia melihat mata kucing bersinar di kegelapan, dan mengiranya bara api. Ia mengulurkan sebatang lilin ke mata itu, dan seketika kucing itu mencakar mukanya. Ia terjengkang menjatuhi anjing, sedangkan pistolnya terlontar dari tangannya, lalu meletus. Gigi tajam anjing mencengkam betisnya. Keledai meyepak keras-keras sehingga penjahat itu terlempar ke luar pintu.
“Lari ! Lari !” teriak permapok itu. “Di dalam ada nenek sihir yang mencakar mukaku,ada jin yang menggigit kakiku, dan ada hantu yang memukul pantatku dengan tongkat besar ! Lalu...” Tetapi kawan-kawannya tidak mendegarnya lagi. Mereka sudah lari tunggan-langgan ketakutan.
   Dengan demikian, keledai, anjing, kucing dan jago menempati rumah itu. Mereka menemukan uang yang ditinggalkan para perampok. Dengan uang itu  mereka dapat membeli makanan, dan mereka hidup bersama-sama sampai bertahun-tahun

The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur

By : admin-ST-Rex



Sidang Para Tikus

By : Story Liner

Sidang Para Tikus

   Pada Suatu hari... ada seekor kucing besar. Ia sering berkeliaran di peternakan. Setiap kali ia datang, tikus-tikus menjadi kalang kabut. Tak seekor pun berani meninggalkan liangnya. Tikus – tikus takut kalau-kalau jatuh ke dalam cengkeraman binatang bengis itu.
   Para tikus sepakat untuk berkumpul dan membicarakan masalah itu serta mencari jalan untuk mengatasinya. Pada suatu hari, kucing itu tidak datang, maka seluruh warga tikus berkumpul di ruang rapat. Mereka yakin bahwa mereka sanggup memecahkan masalahnya, maka masing-masing mengajukan usul :
   “Mari kita buat perangkap raksasa !” usul salah satu tikus. Tikus lain segera menyahut : “ Bagaimana kalau kita racuni dia ?” Tetapi, tidak ada yang tahu racun apa yang dapat mematikan kucing. Ada usul lain : “sebaiknya kita cabut semua giginya,lalu kita potong semua kukunya, supaya ia tidak berbahaya lagi !” Usul ini juga tidak disetujui.
   Akhirnya,tampil seekor tikus yang lebih pintar dari yang lain.Ia merayap ke lampu yang menerangi ruangan itu. Dibunyikannya giring-giring dan minta supaya hadirin tenang : “Kita ikatkan giring-giring ini pada ekor si kucing. Dengan demikian, kita akan selalu tahu di mana ia berada. Kita akan melarikan diri sebelum ia mendekat. Tikus yang paling lamban dan paling lemah pun akan mendengar ia datang dan dapat menyelamatkan diri !”
   Usul tikus yang bijaksana itu disambut dengan tepuk tangan semua memuji gagasan cemerlangnya.
“Giring-giring itu harus kita ikatkan erat-erat supaya tidak lepas !”
“Ia tidak akan datang diam-diam dan mengejutkan kita lagi !”
   Tikus pintar itu membunyikan giring-giring sekali lagi supaya tikus-tikus itu tenang. “ Sekarang, kita harus menentukan siapa yang bersedia memasang giring-giring ini pada ekor kucing ?” katanya. Ruangan menjadi hening. Lalu,mulai terdengar bisik-bisik : “ Aku tidak bisa, soalnya...”
“Aku ? Jangan !” “Aku mau,tetapi...”
“Jangan,jangan aku ...”
“Aku juga jangan !”
   Tak seekor pun berani melaksanakan rencana itu. Maka sidang dibubarkan tanpa ada keputusan. Memang mengatakan gagasan cemerlang itu mudah, tetapi melaksanakannya jauh lebih sulit....


The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Anjing yang Loba

By : Story Liner

Anjing Yang Loba

Pada suatu hari... seekor anjing berhasil mencuri sepotong daging di pasar. Daging itu digondolnya ke hutan untuk dilahapnya sendiri, tanpa terganggu. Ia sampai di tepi sungai yang sangat jernih airnya. Secara kebetulan ia melihat pantulan mukanya di air. Ia tidak tahu bahwa ia sedang melihat dirinya sendiri. Ia mengira melihat seekor anjing lain yang menggondol daging sekerat besar.
“Akan kurebut dagingnya,” pikir anjing loba itu. Ia pun terjun ke air. Begitu ia mencebur, tentu saja pantulan itu hilang dan anjing lain bersama dagingnya tak tampak lagi.
Waktu itu ia tersadar bahwa ketika ia menyalak untuk menakuti-nakuti anjing yang lain itu, daging curian yang digondolnya lepas. Arus sungainya deras, dan daging cuiran itu terbawa hanyut. Maunya mendapat dua, sekarang malah tak punya apa-apa.


The End


info: Loba = Tamak;Serakah

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Kucing Bersepatu

By : Story Liner

Kucing Bersepatu

Dahulu kala.... seorang pemilik penggilingan meninggal dunia.Penggilingan itu diwariskan kepada anak sulungnya,keledainya untuk anak kedua, dan si bungsu mendapat bagian seekor kucing

            Si Sulung mulai menjalankan usaha penggilingan itu. Anak kedua pun pergi dengan keledainya untuk mengadu untung... Si bungsu duduk tercenung di atas batu dan mengeluh
“Wah, kucing.Untuk apa kucing ?” Namun, kucing itu mendengar keluhannya dan berkata.
“Jangan khawatir, Tuan ! Apa yang tuan pikirkan ? Aku kurang berharga daripada penggilingan yang hampir bobrok itu atau seekor keledai tua ? Beri aku jubah,topi berhias bulu, karung dan sepatu, maka Tuan akan melihat apa yang dapat aku perbuat.”
Si Bungsu memenuhi semua permintaan itu. Dengan penuh rasa percaya diri, kucing berangkat sambil berkata, “Jangan murung, Tuan ! Sampai jumpa lagi”
Di Jalan Kucing menangkap seekor kelinci liar gemuk,lalu dimasukkannya kelinci itu dalam karung. Ia berlari menuju istana.Diketuknya pintu gerbang, lalu ia menghadap Raja

Sambil mengankat topi dan membungkuk dalam-dalam, ia berkata
“ Duli Tuanku, Pangeran dari Karabas yang termahsyur itu mengirim kelinci gemuk yang bagus ini sebagai persembahan bagi Tuanku !”
“Wah.” Kata Raja, “Terima kasih banyak !”
Keesokan harinya, kucing itu datang lagi dengan membawa beberapa ekor ayam hutan. “ Pangeran dari Karabas yang gagah berani mengirimkan persembahan ini.” Demikian katanya.
Pada hari-hari berikutnya. Kucing Bersepatu secara teratur datang ke istana dengan membawa kelinci,trewelu,ayam hutan dan burung. Semua itu dipersembahkannya kepada Raja atas nama Pangeran dari Karabas. Orang-orang di istana mulai membicarakan bangsawan yang mulia ini.
“Ia pasti pemburu yang hebat !” kata seseorang. “Ia pasti sangat setia pada Raja.” Kata seorang yang lain. Dan yang lain lagi. “Tetapi siapakah dia ? Saya belum pernah mendengar nama itu “
Ratu bertanya kepada Kucing Bersepatu. “ Apakah tuanmu itu muda dan tampan”
“Oh ya, dan dia kaya sekali” jawab Kucing Bersepatu. “Pangeran akan sangat senang kalau Tuanku Raja sudi datang ke purinya.”
Kucing Bersepatu kembali ke rumah tuannya, dan berkata bahwa Raja dan Ratu akan datang berkunjung.
“Apa ?” kata pemuda itu, “ Lalu, apa yang akan kita lakukan ? Begitu melihatku mereka akan tahu betapa miskinnya aku ini.”

“Serahkan saja semua kepadaku.” Jawab Kucing Bersepatu. “ Aku punya rencana.” Beberapa hari lamanya Kucing Bersepatu yang cerdik itu terus mempersembahkan hasil buruan. Suatu hari, ia mendengar bahwa Raja dan Ratu akan mengajak Sang Putri berkeliling dengan kereta pada siang itu juga.
Dengan cepat ia kembali ke tuannya. “ Tuan,bersiap-siaplah!” katanya. “Rencanaku itu harus dilaksanakan sekarang. Tuan hari ini harus berenang di sungai.”
“Tetapi aku tak dapat berenang !” jawab pemuda itu.
“Tidak apa-apa,” kata kucing. “Percaya saja kepadaku !” Kucing Bersepatu mengajaknya ke tepi sungai. Ketika kereta Raja muncul, Kucing Bersepatu mendorongnya ke sungai.
Kucing Bersepatu berteriak, “ Tolong ! Pangeran dari Karabas kelelap ! “ Raja mendengar teriakan itu dan memerintahkan pengawalnya untuk menolong. Mereka tiba tepat pada waktunya untuk menyelamatkan pemuda malang itu. Raja, Ratu, dan Putri sibuk menghangatkan badannya.
Ratu bertanya kepada Putri, “Tidak inginkah engaku menikah dengan pemuda setampan ini ? ”
“Ingin sekali !” jawab Putri. Tetapi, Kucing Bersepatu mendengar kata-kata Raja, bahwa mereka mau menyelidiki dulu apakah ia memang kaya.
Kucing Bersepatu berkata, “Kaya ? Ia kaya raya ! Semua tanah yang Tuanku lihat ini adalah miliknya. Demikian pula puri itu ! Datanglah berkunjung ! Saya tunggu di puri !”
Kucing Bersepatu bergegas lari ke arah puri. Ia berteriak kepada para petani yang bekerja di ladang. “Jika seseorang bertanya siapa tuanmu, jawablah Pangeran dari Karabas !” Maka, ketika kereta Raja lewat, para petani berkata kepada Raja bahwa tuan mereka ialah Pangeran dari Karabas.

Sementara itu, Kucing Bersepatu telah sampai di puri. Puri itu dihuni oleh raksasa penyihir yang sangat kejam. Sebelum mengetuk pintu, Kucing mengingatkan dirinya sendiri, “Aku harus sangat berhati-hati kalau ingin keluar dari sini dengan selamat !” Ketika pintu dibuka, Kucing Bersepatu membuka topinya dan berseru, “Hormat saya, Tuan Raksasa !”
“Mau apa, kucing ?” tanya raksasa dengan galak.
“Duli Tuanku, saya mendengar Tuan memiliki kekuatan besar. Kata orang Tuan dapat berubah menjadi singa atau gajah.”
“Itu memang benar sekali,” kata raksasa itu, “lalu, kenapa ?”
“Wah,” kata Kucing Bersepatu. “Tetapi, saya berani bertaruh, Tuan tak dapat berubah menjadi makhluk yang sangat kecil, katakanlah seekor tikus.”
“O, ya ? Coba, lihat ini !” jawab raksasa itu, dan dengan cepat ia berubah menjadi seekor tikus kecil. Secepat kilat Kucing Berseaptu melompat menangkap tikus itu dan memakannya utuh-utuh. Kemudian ia berlari ke pintu gerbang puri, tepat ketika kereta Raja berhenti di situ. Dengan membungkuk, si kucing berkata, “Duli Tuanku, selamat datang di puri Pangeran dari Karabas !” Raja, Ratu, Putri dan si pemuda anak pemilik penggilingan tadi turun dari kereta. Raja lalu berkata :
“ Pangeran, Anda seorang pemuda tampan, baik hati, dan masih muda. Anda memiliki tanah luas dan  puri indah. Katakan kepada saya, apakah Anda sudah beristri ?”
“Belum,” jawab anak muda itu. “ Tetapi, sebenarnya saya ingin punya istri,” sambungnya sambil memandang sang Putri. Putri itu pun tersenyum kepadanya.
Untuk menyingkat cerita, anak  pemilik penggilingan yang kini bernama Pangeran dari Karabas itu menikah dengan sang Putri dan hidup berbahagia di puri. Dan acap kali Kucing Bersepatu mengedipkan mata sambil berbisik, “Apa kataku, Tuan, saya jauh lebih berharga daripada seekor keledai tua dan penggilingan yang hampir bobrok, bukan ?”


The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

- Copyright © Storyline - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by StoryLiner -