Popular Post

Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Legenda Putri Pinang Masak

By : Story Liner
Pada zaman dahulu, di belakang Dusun Pasir Mayang, ada sebuah kerajaan yang bernama Limbungan. Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu Putri Reno Pinang Masak. Putri ini terkenal dengan kecantikannya yang menawan hati. Tak mengherankan banyak raja dan putra raja yang menghendaki mempersuntingnya. Namun tak seorang pun raja atau putra raja yang meminang yang diterimanya. Semua pinangan ditolaknya.
Disamping cantik, putrid ini terkenal pula berbudi luhur, arif serta bijaksana. Kebijaksanaannya dipuji-puji oleh rakyatnya. Ia adil dan jujur, rakyatnya yang miskin mendapat jaminan hidup dalam hal makan dan minum. Yang kaya, diberi luang dan kesempatan untuk menambah dan mengendalikan kekayaannya. Golongan rakyatnya yang kaya ini kelak harus pula menjamin kelangsungan hidup bagi yang miskin. Dengan demikian terdapat suasana yang harmonis antara sesame anggota masyarakat negeri Limbungan.
Dalam menjalankan pemerintahannya, sang ratu dibantu oleh tiga orang huluibalang yang baginda percayai. Hulubalang yang pertama bernama Datuk Raja penghulu, terkenal sebagai orang arif dan bijaksana yang kedua bernama Datuk Dengar Kitab, seorang hulubalang yang mempunyai keistimewaan dapat mengetahui kejadian-kejadian yang akan dating melalui sebuah kitab yang dimilikinya. Hulubalang yang ketiga ialah datuk Mangun, bertugas sebagai panglima perang kerajaan.
Kecantikan Putri Reno Pinang terdengar pula sampai ke telinga raja Jawa. Lama-kelamaan raja negeri Jawa lalu mengirim utusan untuk melamar sang putri. Ternyata lamaran tersebut ditolak oleh Putri Reno Pinang Masak. Raja Jawa sangat tersinggung karena lamarannya ditolak dengan tegas. Timbuillah kemudian tekad raja Jawa untuk bersumpah bagaimanapun akan mengambil Putri Reno Pinang Masak dengan cara kekerasan.
Putri Retno Pinang Masak tidak takut sama sekali akan ancaman raja negeri Jawa yang telah mabuk kepayang itu. Bahkan baginda ratu sangat gemas dan geram. Baginda memandang gelagat raja Jawa tadi sebagai yang akan merusak kedaulatan negertinya. Oleh sebab itu baginda memanggil ketiga hulubalang serta mengumpulkan rakyat negerinya. Bersama-sama dicarilah bagaimana cara untuk raja jawa yang mengancam akan menyerang negeri Limbungan. Mencari jalan yang sebaik-baiknya melalui pemikiran, musyawarah dan mufakat. Akhirnya didapatkan suatu cara yang telah disepakati bersama dalam perundingan tersebut. Negeri diberi berparit. Di samping itu harus dipagar pula dengan bambu berduri. 
Bambu yang dahan dan rantingnya harus berduri. Maka dicarilah tumbuhan tersebut. Setelah dapat maka segera ditanam berlapis-lapis, sebagai pagar negeri untuk menghalangi supaya tentara Jawa jangan masuk. Pagar inilah nanti sebgagai benteng pertahanan. Negeri Limbungan sudah dilingkupi dengan pagar bamboo berduri. Untuk keluar masuk hanya ada sebuah gerbang. Di pintu masuk, ini telah menunggu Datuk. Mangun beserta anak buahnya.
Raja Jawa beserta tentaranya datang jalan satu-satunya untuk memasuki Limbungan adalah sebuah gerbang yang dijaga oleh hulubalang Datuk Mangun dan anak buahnya. Ke sanalah raja Jawa mengarahkan serangan. Terjadilah pertempuran yuang sengit. Ternyata tentara Jawa tak kuasa sedikit pun menembus pertahanan Datuk Mangun yang didapingi oleh prajurit-prajurit serta rakyat negeri Limbungan yang tangguh. Tentara Jawa perkasa mundur dengan menderita korban besar.
Melihat tentaranya gagal memasuki Limbungan dan menderita kekalahan besar, raja Jawa memanggil semua hulubalang dan mengumpulkan semua prajuritnya. Maka diadakan perundingan dicari akal melalui pikiran orang banyak. Maka dapatlah suatu akal tipu muslihat. Dikumpulkan semua uang ringgit logam. Uang logam ini dijadikan peluru yang akan ditembakkan ke setiap rumpun bambu yang berlapis-lapis tadi. Ditembakkan berulang-ulang, sepuas-puas hati tentara Jawa, sehingga uang ringgit logam itu beronggokan di celah pohon bamboo berduri tersebut. Kemudian raja Jawa beserta tentaranya pun pergilah kembali.
Dalam pada itu ada seorang penduduk negeri Limbungan tidak disengaja, bersua dengan onggok-onggokan uang ringgit logam itu sepanjang edaran pagar bamboo negeri. Melihat uang logam itu sangat banyak terniat di hatinya untuk memberitahukan hal tersebut kepada baginda ratu. Lalu diambilnya sebuah untuk diperlihatkan kepada sang ratu di istana.
Dimana engkau dapat ringgit logam itu, Datuk?” Tanya baginda ratu penuh keheranan.
“Di rumpun-rumpun bamboo benteng pertahanan kita. Tuanku!” jawab pembawa ringgit logam itu agak tergagap. “Bertimbun banyaknya.”
“Baiklah!” kata sang ratu pula. “Aku yakin Datuk tidak berbohong. Mari kita lihat!”
Benar saja! Ratu menemukan uang ringgit logam bertumpukan di sela-sela rumpun bamboo. Maka setelah dirundingkan dengan semua orang diputuskan untuk mengambil semua uang logam tersebut. Untuk memudahkan pengambilannya, pohon-pohon bamboo itu pun ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke istana. Pada saat itu pula ditebangi. Uang logam tersebut diangkut ke Istana. Pada saat itu pula raja Jawa bersama tentaranya datang menyerbu dengan tiba-tiba. Karena benteng pertahanan tak ada lagi pasukan negeri Jawa dengan mudah masuk negeri Limbungan. Tentara beserta rakyat Limbungan tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu.
Putri Retno Pinang Masak sadar akan kesalahannya. Ia sangat menyesal akan kealpaannya. Dengan rasa masygul diam-diam pergilah baginda seorang diri meninggalkan negeri yang dicintainya.
Ternyata kemudian tahu jugalah rakyat bahwa ratunya sudah tidak ada lagi di istana. Negeri Limbungan menjadi gempar. Berusahalah rakyat mencari kemana mana. Ada yang mencari ke hulu, ada yang ke hilir, ada pula yang mencari ke darat dank e baruh (pinggir sungai). Bahkan ada yang mencari sampai ke tepi laut. Namun ratu mereka tak kunjung bersua.
Akan halnya ketiga hulubalangnya, Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, serta Datuk Mangun bermufakat ketika itu untuk bersama-sama mencari ratu Putri Reno Pinang Masak. Mereka masuk hutan keluar hutan. Bila bertemu dengan seseorang mereka tak jemu bertanya. Namun yang dicari tak kunjung bertemu. Maka mereka lanjutkan pula perjalanan. Lurah diturun, bukit di daki. Semak-semak disinggahi kalau-kalau ada putrid Reno Pianang Masak, atau mayatnya. Ketiga hulubalang itu bertekad berpantang berbalik, pulang sebelum yang di cari bersua hidup atau mati. Kalau perlu nyawa mereka sebagai taruhannya.
Sementara itu seorang petani desa Tenaku sedang berada di rumahnya. Ia baru saja selesai bekerja menyiangi rumput hari baru tengah hari, petani itu akan beristirahat ke pondoknya. Menjelang ia sampai ke pondoknya ia sangat terkejut, di mukanya di udara yang cerah dilihatnya melayang-layang sepotong upih pinang. Kemudian upih tersebut jatuh tak berada jauh dari tempatnya berdiri. Ia sangat heran mengapa ada upih pinang di humanya. Kalau itu upih pinang yang ada di desanya, taklah mungkin sejauh itu, diterbangkan angina. Dalam keheranan, petani itu bergegas menuju ke tempat upih jatuh tadi. Sesampai di sana ia sangat terkejut. Dilihatnya sesosok tubuh wanita cantik tergeletak memucat yang dilihatnya itu tak dikenalnya. Ia cukup hapal semua penduduk desanya. Apalagi orang yang sudah dewasa seperti yang dilihatnya. Di baliknya sebentar. Memang wajah yang tak dikenalnya sama sekali. Maka diputuskannyalah untuk memberitahukan penduduk desanya.
Ternyata semua penduduk desa Tenaku sama dengan petani tersebut tak juga mengenal siapa gerangan orang yang meninggal secar aneh itu. Semua yang hadir menjadi gempar. Mereka saling berpandangan dan bertanya satu sama lain. Di saat demikian maka dipanggil seorang dukun.
Dukun telah datang. Ia segera membakart kemenyan. Setelah itu dibacanya jampi-jampi ramalan. Dalam waktu yang singkat dapatlah diketahuinya siapa gerangan mayat yang berbaring di huma itu.
“Jenazah yang kita temui ini “Katanya mengabarkan kepada orang banyak yang mengelilinginya. “Jenazah yang melayang jatuh dari udara bagaikan upih pinang ini adalah jenazah Tuan Putri Reno Pinang Masak raja negeri Limbungan!”
Mendengar ramalan dukun tersebut semua orang yang hadir sangat terkejut. Suara bergumam berdengung bagai suara lebah terbang. Wajah-wajah yang keheranan segera berubah menjadi suram dan sedih. Terbayang kepada orang banyak itu betapa sengsaranya tuan baginda ratu negeri pada saat-saat terakhir hidupnya.
Pada saat itu juga diambil keputusan untuk memakamkan sang putrid di huma di desa Tenaku itu. Sang ratu dimakamkan secara sederhana tanpa disaksikan rakyatnya. Rasa tanggung jawabnya yang besar terhadap rakyat dan negerinya sudah berakhir. Sampai sekarang makam di desa Tenaku tersebut dinamakan “Makam Upih Jatuh”.
Lama-kelamaan ketiga hulubalang yakni Datuk Raja Penghulu, Datuk Dengar Kitab, dan Datuk Mangun sampai pula ke tempat Putri Reno Pinang Masak dimakamkan. Setelah mereka ketahui bahwa itu adalah makam baginda ratu Puteri Reno Pinang Masak, tiba-tiba saja mereka jatuh pingsan dan terus meninggal. Ketiga hulubalang itu dimakamkan pula di sana di samping makam Puteri Reno Pinang Masak. Sampai sekarang makam keempat orang tersebut masiha dan dikeramatkan orang pula.
 
Posted by : Admin ST-Rex
Tag : , ,

Chinese Zodiac Legend

By : Story Liner



Many stories and legends tell the origin of the Chinese zodiac or Chinese horoscope (shēngxiào - 生肖), but the most well-known (and also most fun) one states that the Jade Emperor invited the entire animal kingdom to partake in a tremendous race! The first 12 animals able to cross the river, would be assigned to a year of the Chinese zodiac system in order of appearance.

All the animals were very excited and the news spread rapidly. On the day of the race all the animals gathered at the bank of the river. Rat, although the smallest animal in the zodiac system, won the race. It would seem rather unlikely that such a small animal would win this race, don’t you think?

Well, Rat, although very small and not a good swimmer at all, used his brain and played a little trick! He convinced Ox that together they would have a better chance of winning. Ox being very strong and Rat gifted by a marvelous sight would be a winning team! So, Rat hopped on the back of Ox. When they neared the other side of the river however, Rat quickly jumped ahead and was named first animal of the Chinese zodiac, followed by Ox, who came in second. Tiger claimed third prize. Although it was difficult to cross the river, Tiger made it thanks to his strength. Following closely was Rabit, who had crossed the river by jumping from one stone to the other. Dragon, who was expected to finish first, had to stop to make rain to help all the creatures on earth and came in fifth place. Then, a galloping sound was heard and Horse arrived. Snake, hidden in the hoof of Horse, suddenly appeared, scared Horse and was named 6th animal. Horse ended 7th.

After that, Goat, Monkey and Rooster reached the shore. By working together they were able to cross the river. Very satisfied by this teamwork, the Jade Emperor assigned Goat as the 8th animal of the cycle, Monkey as the 9th and Rooster as the 10th. Dog became the 11th animal, since he couldn’t resist to play a little bit longer in the river before crossing it. Finally, the last to arrive was Pig. He got hungry during the race and stopped to grab a quick bite, but fell asleep afterwards. And this is how the Chinese zodiac was formed.

Why Cat & Mouse become Sworn Enemies

 

Cat and Rat where the best of friends, the kind of friends that spends almost every waking hour together. Both were very excited about the news of the great race and immediately started to make plans to cross the river. On the day of the race, Cat wanted to take a little nap before partaking in the race, since it would ask a lot of effort and would therefore be very exhausting. Winning this race, however, was the only thing Rat could think about. So, instead of waking up Cat, Rat silently sneaked out and spurred to the shore of the river. After enjoying his splendid nap in the sun, Cat woke up to discover the race was already over and Rat had finished first. He was devastated and furious at the same time and swore to hate Rat forever. That is why Cat chased after Rat…and cats all over the world nowadays still do.

Posted by : Admin ST-Rex
Source : http://www.hutong-school.com/origin-chinese-zodiac-why-cats-and-rats-are-sworn-enemies
Gallery :



Tag : , ,

Chinese New Year Legend

By : Story Liner
年 (Nian, Year)
There are many legends that are part of the Chinese culture. Many of them exemplify moral lessons, not so different from Aesop and his fables. One story in particular is the story of Chinese New Years.
Long ago in the mountains, there lived a horrible demon creature named Nian. Every year, on the first day of the year, the creature would awaken and descend upon the village. He would eat all the grain and livestock. And if there were any unfortunately children stuck outside, they would disappear.

The villagers lived in fear of this beast and boarded up their houses on this night to protect their families. One year, right before this event was to occur, an old man visited the village. He turned to the villagers and asked, "Why do you fear this creature such? You are many and he is but one. Surely he could not swallow all of you."

But the villagers remained skeptical and locked themselves up anyway. That night, Nian did not come. The old man had ridden him until dawn and the creature went back to its cave hungry. This went on for several nights until the old man revealed, "I cannot protect you forever."

He turned out to be a god and had to return to his duties elsewhere. The villagers were terrified that once the old man left, they would once again see Nian return.

So the old man informed them, "The beast is easily scared. He does not like the color red. He fears loud noises and strange creatures. So tonight, spread red across the village. Hang red signs on every door. Make loud noises with drums, music, and fireworks. And to protect your children, give them face masks and lanterns to protect them."

The villagers did as the old man instructed and Nian never returned again.

In Chinese, the word for New Years is Guo Nian. Literally translated it means to "pass over Nian" or "overcome Nian". That is exactly what the villagers did.

It has become a tradition that part of New Years celebration is to hang lots of red decoration in your house. Streets are filled with music, loud drums, and fireworks all day long. And special paper lanterns are made in a variety of shapes and sizes, paraded through the streets to scare off any demons that might come.

Thus ends the story of Chinese New Years or Guo Nian.

Posted by : admin ST-Rex
source      : http://www.chinesenewyearfestival.org/culture/19-the-story-of-chinese-new-year-
Tag : , ,

- Copyright © Storyline - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by StoryLiner -