Surat untuk Masa Mudaku: Ketika Luka masa lalu bertemu kasih
By : Story LinerTrigger Warning: Tulisan ini membahas tentang kehilangan, luka batin, dan pemikiran untuk mengakhiri hidup.
“A rebellious teen and a reserved caretaker form an unlikely bond in an orphanage as they come to terms with their painful pasts.” — Netflix
Hal pertama yang saya pikirkan setelah menonton film Surat untuk Masa Depanku adalah: film ini sangat menyentuh hati saya, dan saya harus menuliskan apa yang saya pelajari dan rasakan.
Saya juga ingin memberikan apresiasi khusus kepada para aktor cilik yang tampil begitu natural dan meyakinkan. Ada Kefas (Millo Taslim) remaja yang penuh luka dan kepahitan, Sabrina ( Aqila Faherby) perempuan yang tegas dan dewasa, Joy (Cleo Haura) cewek tomboy sahabat Kefas, Boni (Halim Latuconsina) anak paling kecil berperawakan khas Indonesia Timur yang rindu ingin diadopsi, Romi (Jordan Omar) anak yang malu tampil didepan namun pintar menyanyi dan Desi (Diandra Salsabila Lubis) perempuan yang pintar menyanyi juga. Emosi yang mereka tampilkan terasa tulus dan lugu, sehingga penonton benar-benar dapat terhubung dengan cerita.
Film besutan sutradara Sim F. ini bukan sekadar cerita, melainkan sebuah perjalanan hati—tentang luka yang dipendam, kasih yang memulihkan, dan harapan yang muncul bahkan di saat paling gelap.
Mari kita masuk ke dalam ceritanya.
(SPOILER WARNING)
Cerita dimulai di masa kini, ketika Kefas dewasa berselisih dengan istrinya karena sikapnya yang terlalu overprotective terhadap putrinya. Kabar duka dari panti asuhan—meninggalnya Pak Simon—membawa Kefas kembali ke masa lalunya.
Pada usia 12 tahun, Kefas dan adiknya, Angelina, ditinggalkan oleh ayah mereka di panti asuhan dengan janji ayahnya akan kembali untuk menjemput mereka, janji yang tak pernah ditepati... Luka itu semakin dalam ketika Angelina meninggal akibat kelalaian pengurus panti sebelumnya, Pak Cahyo, yang bahkan mencuri bantuan. Dari sinilah kepahitan Kefas tumbuh.
Segalanya mulai berubah dengan hadirnya Pak Simon.
Pak Simon datang dengan luka yang tidak kalah dalam—kehilangan anaknya enam tahun lalu dan istrinya empat bulan yang lalu. Ia menerima tugas sebagai pengurus panti hanya sementara, karena Pak Simon telah memiliki rencana lain.
Di panti, ia menghadapi berbagai ulah anak-anak, terutama Kefas. Namun alih-alih menghukum, ia memilih untuk mengampuni dan melindungi. Bahkan ketika Kefas:
- membuat masalah di sekolah,
- memecahkan kaca Pak Yahya,
- hingga menyabotase acara bakti sosial, yang membuat anak anak panti batal diadopsi
Pak Simon tetap menanggung akibatnya tanpa melaporkannya ke yayasan. Pak Simon tahu Kefas penuh dengan kepahitan dan meskipun apa yang dilakukan Kefas sudah sangat keterlaluan. Pak Simon tidak ingin panti asuhan mengusirnya ke jalanan, Pak Simon ingin memulihkan Kefas. Pesan ini juga dikuatkan dengan ayat alkitab yang tertulis di dinding Panti Asuhan, 1 Korintus 13:7:
“Ia (Kasih) menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu"
Saya pribadi sangat tersentuh dengan versi BIMK:
“Ia tahan menghadapi segala sesuatu dan mau percaya akan yang terbaik pada setiap orang; dalam keadaan yang bagaimanapun juga orang yang mengasihi itu tidak pernah hilang harapannya dan sabar menunggu segala sesuatu.”
Ayat ini terasa hidup dalam tindakan Pak Simon. Ia seolah melihat versi terbaik dari Kefas, bahkan ketika semua orang sudah menyerah.
Salah satu momen yang sangat membekas adalah ketika Pak Simon membayar kerugian yang disebabkan oleh Kefas. Bagi saya, ini menjadi gambaran tentang kasih Kristus yang menebus—ketika Kristus menanggung harga atas kesalahan kita.
Dua Luka, Satu Cermin
Ketika Kefas kabur dari panti asuhan. Pak Simon segera mencarinya dan menemukan Kefas di nisan Angelina. Kefas dan Pak Simon membentuk ikatan emosional yang kuat karena mereka ternyata senasib. Sama sama anak panti asuhan dan ditinggal oleh orang terkasih
Di titik ini, saya menyadari sesuatu: Kefas dan Simon adalah dua nama yang merujuk pada pribadi yang sama—Petrus.
Seolah film ini sedang memperlihatkan dua fase kehidupan dari sosok yang sama:
- Kefas sebagai masa muda yang penuh luka
- Simon sebagai masa depan yang masih bergumul
Mereka bukan hanya saling mengerti—mereka saling membantu. Pada akhirnya Kefas dibawa pulang oleh Pak Simon dan meminta maaf kepada anak panti asuhan. Perlahan, hati Kefas mulai dipulihkan. Kehadiran Pak Simon membawa solusi di panti dan membuatnya disayang oleh anak anak panti. Mulai dari membuat gawang yang mencegah bola masuk perkarangan pak Yahya, kemudian mengganti beras yang berkutu, membenarkan radio kefas, mengajari mengemudi kepada Sabrina, melobi pak Wahyu agar Bakti Sosial dapat diadakan segera bulan berikutnya, melatih anak panti untuk penampilan bakti sosial dan masih banyak lagi. Penampilan Bakti Sosial mereka pun sukses dengan membawakan lagu Kidung (lagu yang sangat indah yang menjadi tema film ini) dan akhirnya banyak anak anak panti yang akan diadopsi termaksud Kefas.
Ketika Tuhan “Menyela”
Puncak cerita terjadi ketika kita mengetahui bahwa Pak Simon diam-diam merencanakan untuk mengakhiri hidupnya. Di sinilah film ini terasa begitu jujur: bahwa seseorang yang terlihat kuat, sabar, dan menjadi berkat bagi banyak orang pun bisa menyimpan luka yang sangat dalam
Namun, ada serangkaian “kebetulan” yang terasa seperti campur tangan Tuhan. Mulai dari Seorang pemulung yang bertemu Pak Simon mendoakan agar ia diberi umur panjang. Kemudian percakapan sederhana antara Pak Wahyu dan Pak Simon, Pak Wahyu mengingatkan Pak Simon bahwa dulu justru Simonlah yang mengajarinya untuk bersyukur dan berserah saat Pak Wahyu tidak betah di Belanda.
Pak Yahya, yang hidup sendiri karena anak-anaknya berada di luar negeri dan telah lama kehilangan istrinya, berkata bahwa kehilangan itu pasti dalam hidup. Percakapan ini sederhana, tetapi terasa sangat dalam—seolah menjadi cermin bagi kondisi hati Pak Simon. Hal yang tak kalah ganjil adalah Pak Gabriel, yang awalnya hanya memikirkan uang, tiba-tiba diliputi kegelisahan. Sebuah video yang sedang diputar mendadak berhenti dan menampilkan ayat 1 Timotius 6:10 disertai gambar Yesus.
"Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka."
Semua ini memuncak pada satu momen penting: Sebuah lagu.
Ketika Pak Simon hendak mengakhiri hidupnya, radio tiba-tiba memutar lagu Kidung. Saya tersadar ada 1 penggalan liriknya yang berbunyi demikian—
“Kidung yang indah, kau luputkan aku dari sebuah dosa”— Ia menjadi penahan di saat paling kritis.
Ketika Kefas dan anak-anak panti datang dan menyanyikan lagu itu, momen tersebut menjadi klimaks yang sangat emosional. Kasih yang dulu menyelamatkan Kefas, kini kembali menyelamatkan Pak Simon.
Saya teringat kutipan dari puisi Dalam Diriku karya Sapardi Djoko Damono:
“dan karena hidup itu indah aku menangis sepuas-puasnya”
Apapun yang terjadi, tetaplah memilih kehidupan, hidup itu indah bukan?
Tentang Kehilangan dan Harapan
Aku ingin bersyukur pada diriku yang berusia 12 tahun. Di usia itu kau dan adikmu ditinggalkan di panti asuhan dengan janji akan kembali, meski kau tahu janji itu tak akan ditepati tetapi kau terus menunggu dan berharap. Banyak rasa sakit hati, kehilangan, serta tangisan di malam hari, tapi kamu nggak pernah mau menunjukkannya ke orang lain. Kamu berusaha menjadi kekuatan untuk adikmu.Aku juga ingin bersyukur pada diriku yang berumur 15 tahun. Di mana kau harus menghadapi kepergian adikmu dengan menyalahkan diri sendiri karena tak mampu menjaganya. Rasa bersalah serta kemarahan terus ada padamu. Namun, aku bangga karena di tengah kegelapan itu kau memilih untuk bangkit dan melawan keputusasaan, meski itu tidak mudah.Di tengah segalanya aku sangat bersyukur Pak Simon hadir pada saat itu. Dan juga kembali hadir di saat ini. Ternyata rasa ketakutan akan kehilangan orang yang kucintai masih ada sampai saat ini.Di hari kehilanganmu ini kamu justru mengingatkanku bahwa apa yang kamu alami di masa lalu menjadi kekuatanku di hari ini, yaitu kekuatan untuk bersyukur. Dan menerima setiap kehilangan dengan hati yang lapang. Memilih kebahagiaan, meski di tengah rasa kehilangan.Sekali lagi Pak Simon, yang akhirnya membuatku paham hari ini, di hari aku kehilanganmu. Selamat jalan.
Di akhir cerita, Kefas dijemput orang tua angkatnya untuk diadopsi. seluruh anak panti terharu dan Pak Simon memeluk Kefas, Pak Simon ingin mengembalikan radio kefas namun Kefas memberinya ke Pak Simon karena masih sering teringat Angelina. Pak Simon mengatakan bahwa ia belajar kehilangan itu pasti, kita bisa belajar bersyukur. Kefas berkata mungkin suatu saat nanti Ia akan mengerti apa yang dimaksud Pak Simon. Di Masa kini Kefas disodorkan radio oleh Pak Wahyu, yang merupakan pesan terakhir dari Pak Simon. Kefas akhirnya memahami pesan Pak Simon:
Kehilangan adalah bagian dari hidup.
Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi bisa diterima. Dari situ, kita bisa belajar bersyukur dan melangkah maju.Ayat-ayat yang tertulis di dinding panti—seperti Mazmur 37:5
"Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak"
dan Yeremia 17:7
"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN"
menjadi pengingat untuk berserah dan berharap kepada Tuhan.
Dalam euloginya, Kefas menulis “surat untuk masa mudanya”—sebuah tanda bahwa ia tidak lagi hidup dalam ketakutan, melainkan dalam penerimaan. Di akhir film, Kefas menelpon istrinya, meminta maaf atas sikapnya dan dia siap menceritakan luka masa lalunya.
Penutup
Film ini mengingatkan saya bahwa:
kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu,
tetapi kita bisa memilih bagaimana kita meresponsnya.
Dan mungkin, di tengah luka yang kita rasakan,
ada kasih yang sedang bekerja—
bahkan melalui hal-hal yang sederhana.
Jika kamu sedang merasa lelah, putus asa, atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian.
Ada orang-orang yang peduli dan ingin mendengarkanmu. Kamu bisa menghubungi layanan dukungan seperti SEJIWA di 119 (tekan 8) atau mengunjungi www.healing119.id untuk terhubung dengan konselor profesional.
Mencari bantuan adalah langkah yang berani, dan kamu berharga.
Sore: Istri dari masa depan - A review & reflection
By : Story Liner
I just watched Sore: Istri dari Masa Depan last week, and there’s this feeling that still lingers even now. I wanted to pour all of it out—this mix of warmth, longing, and quiet ache—into what I’d call a review (though perhaps it leans more toward reflection).
⚠️ SPOILER ALERT!
Plot Summary:
image source: ceritafilms
We begin from Jonathan’s perspective. Jonathan (Dion Wiyoko), an Indonesian photographer living in Croatia, wakes one morning to find Sore (Sheila Dara)—a mysterious woman who claims to be his wife from the future—beside his bed. Guided by her, his life improves: his work advances, and his habits shift. But when Sore warns Jonathan that he will die in 8 years if he doesn’t change, she suddenly collapses and dies before his eyes.
Then, the story shifts. We see it from Sore’s perspective. This isn’t her first time coming to the past—she’s tried hundreds, even thousands of times to change Jonathan, always failing, each time forced to start over. In her loops, she learns Jonathan’s deepest wound: his estranged father, Seno (Mathias Muchus), who abandoned him as a child. Sore realizes that reconciliation is the key, not force. Yet, every time she tries to bring Jonathan to his father’s house, time runs out.
Finally, we shift to Time’s perspective. Each loop shortens the days and lengthens the nights, eating away at Sore’s time. Every time she gazes at the aurora, she collapses and dies, only to start over again. Eventually, Sore accepts what she cannot change. She asks Jonathan to remember her forever, declaring, “I am Sore, your wife forever always.” She fades into the night.
Jonathan wakes again, now filled with a deep longing and an unexplainable sense of being loved. That lingering love compels him to quit his vices, reconcile with his father, and turn his life around—not because of fear, but because of love.
Years later, during a climate change exhibition in Indonesia, Jonathan meets Sore again in the present day. When they shake hands, their memories of all the loops flood back. With tears in their eyes, they embrace, finally free from time’s grip.
------------------------------------------------------------------------------------------ (Image credit: by Frank Olsen, Norway via Getty Images)
When I first watched Sore: Istri dari Masa Depan, I thought, “Sore is an impossible character.”
Who would endure heartbreak, failure, and countless restarts, just to change one person?
But maybe it’s precisely because it’s impossible that it’s beautiful.
Sore’s journey isn’t just about Jonathan—it’s about her. Every loop is as much about Sore learning Jonathan’s grief as it is about learning to let go herself.
This reminded me of a real-life story: Yasuo Takamatsu, a Japanese widower who has spent over a decade diving every week in search of his wife, Yuko, lost in the 2011 tsunami. Since 2013, he’s completed over 600 dives. Some call it grief. Others call it love. For someone who may never return, but whose memory remains deeply present.
Yasuo Takamatsu, a man who can't be moved
Sore’s persistence mirrors Yasuo’s love: futile in human terms, but profound and deeply moving. And just like Yasuo’s quiet devotion, Sore’s love isn’t futile after all—because Jonathan does change.
Not out of fear. Not because of ultimatums.
He changes because he feels loved.
"Orang berubah bukan karena rasa takut, tapi karena dicintai." – Jonathan
It reminds me of 1 John 4:18:
"There is no fear in love. But perfect love drives out fear."
Rules or fear may push us for a while. But love—steady, patient, unrelenting—transforms us from within.
We may not be like Sore, able to travel through time to make love linger. But I’ve learned this: prayer is an act of love that lingers. When words fail, when efforts fail, prayer remains.
I once prayed for a friend for years. Every attempt to change my friend failed, and I gave up. But I kept praying quietly. Then one day, change blossomed—not because of me, but because Love had been at work all along.
-----------------------------------------------------------------------------------------
It’s beautiful to be loved this much.
And it’s even more beautiful to know this love exists in real life—enduring, patient, and selfless.
Greater Spirit - Rexy Susanto (Lyric)
By : Story LinerGreater Spirit - Rexy Susanto (Lyric)
Verse 1:
When my life hits rock bottom
When my life is falling apart
I'm still worshipping You Lord
I'm still praising You Lord
Verse 2:
When dream turns into nightmare
When vision oh seems so bleak
I'm still revering you Lord
I'm still adoring you Lord
Reff:
For I do not fear
Cause Your spirit within me
Greater than the world
Greater than evil
Greater than hardship
Bridge:
I know Your Right Hand will hold me
I know Your Voice will calm the storm
I know I'm safe within your refuge
You support me, You're walking with me
You instruct me and You lead me
Reff(Indo):
Ku tidak takut
Kar'na RohMu didalamku
RohMu lebih besar
Dari dunia dari masalah
The Prince of Egypt (Review)
By : Story Liner"The Prince of Egypt" is a timeless animated musical drama released 26 years ago (1998). I recently watched it for the first time and was deeply moved by its storytelling, music, and animation. How could I miss this masterpiece! Anyway it doesn't matter, I'm grateful to have finally seen it. Despite its age, the film remains a powerful and relevant experience.
So to summarize, The Prince of Egypt is produced by DreamWorks. It adapts the biblical Book of Exodus, following Moses's journey from an Egyptian prince to a prophet chosen by God to lead the Hebrews out of slavery. Notably this was DreamWorks first animated feature, and the studio spared no effort in bringing together an impressive ensemble of voice actors, songwriters, and composers, demonstrating DreamWorks means serious business. There are many things I like from the movie, SPOILER AHEAD, here we go
.
.
.
1. Deliver Us: A Powerful Opening
With the stings of the whip on my shoulder
Imagine that you are working your bone to the death and when you return home, you newly born son is killed... you might go insane. The opening sequence, set to the song "Deliver Us", masterfully depicts the harsh reality of Hebrew slavery and their desperate cries for freedom. The lyrics and music convey a deep sense of suffering under the oppressive Egyptian sun, highlighting their hope for deliverance. When I hear they sing "Deliver Us, There's a land you promised us" It struck and resonates deeply in me, reminding us that Even in the darkest times, there is a promise of a better future. To those that feel like living in a bondage, have faith because God will deliver. Big kudos to the singing voice of Yocheved (Ofra Haza) her performance is particularly moving; her voice captures both desperation and hope. From the information I found, she recorded this song into 17 different languages! what a dedication and talent! Young Miriam (Eden Riegel), also delivers a touching performance, adding to the emotional weight of the scene.
Yocheved Crying
2. The Wisdom of "Through Heaven's Eyes"
Another standout moment is Jethro's song "Through Heaven's Eyes" where he teaches Moses about the importance of seeing oneself through the eyes of the divine rather than through human judgment. One of my favorite lyrics is:
A single thread in a tapestry
Though its color brightly shines
Can never see its purpose
In the pattern of the grand design
Tapestry
This metaphor beautifully illustrates that, while each person is unique and valuable, our true purpose is only fully realized when we embrace our role in the greater design orchestrated by God, the Grand Artist.
Another poignant lyric is:
And to one lost sheep, a shepherd boy
Is greater than the richest king
This verse teaches that material wealth is not the ultimate measure of value; simple, essential things can be far more precious. It also subtly references the biblical parable of the lost sheep, emphasizing the importance of each individual to the Good Shepherd, who cares for us beyond material wealth. Whenever you lost, listen to shepherd voice. Sheep knows the shepherd voice, and the Good Shepherd loves His sheep (well rich king might love sheep too but maybe as a mutton in his feast)
3. The Encounter with God
One of the most awe-inspiring scenes is Moses' encounter with God at the burning bush. I love this part because the animation manage to capture the divine presence with a warm, inviting white flame. There's no any sense of threat and instead it emphasize God's welcoming and reassuring nature. The animator did a good job depicting an encounter with God, full of awe, wonder, and reverence! The scene is beautifully accompanied by Hans Zimmer's music, enhancing the atmosphere to the fullest. Top notch! There's part when God reprimand Moses. But then, it followed by God comforting assurance with soft spoken voice. It really portrays a compassionate and patient God who supports and guide his followers.
"Oh Moses, I will always be with you"
After seeing the burning bushes scene, I contemplate that God, Our Heavenly Father is a God that welcome you with open arms. His Grace is available to all, regardless of their past as shown in Moses' transformation from the Prince of Egypt (and former killer) to a leader of the Hebrew People. Embrace His Grace and never turn back.
4. The Plagues Sequence
A standout creative decision in The Prince of Egypt is the way the filmmakers condensed the second to ninth plagues into a single musical sequence. I initially wondered how they would portray all the plagues without consuming too much time, especially as the movie was entering its third act. This question was answered brilliantly through the song performed by Moses and Rameses, which felt like an epic rap battle of the ancient world (hehe). The filmmakers managed to convey the escalating tension and devastation through powerful visuals and music. The depiction of the tenth plague, in particular, is hauntingly effective. The silence and darkness create a chilling atmosphere, broken only by the subtle sound of a cup shattering—a simple yet powerful representation of the profound loss experienced by the Egyptians.
5.The Final Scene: "When You Believe" and the Parting of the Red Sea
I didn't realize that the song "When You Believe" was created specifically for this movie, and seeing it within the context of the final scene gave me a deeper appreciation for its message. After enduring years of slavery, when prayers for deliverance seemed unanswered and conditions were harsh, including the horrors of infanticide, the Hebrews finally experience freedom. The song captures the overwhelming sense of relief and miracle-like feeling of their liberation. Its theme of maintaining faith and perseverance resonates strongly, especially in light of the hardships faced by the characters.
There can be miracles when you believe
The parting of the Red Sea is a visually stunning climax, especially impressive for a movie released in 1998. The CGI waves are beautifully rendered, capturing the grandeur and awe of the miraculous event. The scene perfectly encapsulates the divine intervention that defines this biblical story, leaving viewers with a sense of wonder and reverence.
Overall, The Prince of Egypt has remarkable storytelling, music, and animation to deliver a powerful and emotionally resonant experience (I might be biased here). Is a must-watch for anyone interested in animated films or biblical narratives.
Written by: Admin ST-Rex
Alates & Firefly
By : Story Liner
Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menemani teman saya berkeliling kota melihat gemerlap cahaya lampu di malam hari. Saya berseloroh bahwa dia seperti Firefly, serangga yang mengerumuni cahaya lampu. Ya saya tahu saya salah menggunakan nama serangga (seharusnya laron). Namun hal tersebut membuat saya merenungi perbedaan antara Laron/Alates dan Kunang-kunang.
Alates atau yang sering kita kenal dengan nama laron merupakan serangga Rayap Terbang atau Rayap Bersayap. Laron adalah bagian awal dari setiap siklus hidup rayap di mana mereka telah siap untuk reproduksi dan membangun koloni baru. Laron sangat suka dengan cahaya, dikarenakan cahaya membantu mereka menavigasi ketika terbang, menemukan pasangan dan membangun koloni baru.
Sering kali kita seperti laron, berjalan dalam kegelapan berusaha mencari sumber cahaya agar hidup kita tidak lagi gelap gulita, kebutuhan kita terpenuhi, dan tidak tersesat.
Namun tahukah kalian cara menangkap laron? Cukup taruh air ke dalam ember dan taruh di bawah sumber cahaya seperti lampu. Pantulan cahaya di air terlihat sangat memikat bagi Laron sehingga mereka akan hinggap ke air tersebut... dan mati tenggelam.
Dalam hidup terkadang kita mencari sukacita dan damai di tempat yang salah. Seperti laron, kita terbuai oleh kilauan cahaya yang lebih menarik namun menipu, kita pun sering kali terpikat oleh hal-hal yang tampak indah namun palsu. Hingga tanpa disadari, kita sudah tenggelam. Jangan mencari sumber cahaya yang semu, carilah sumber cahaya yang sejati.
Sekarang mari kita belajar pada satu serangga yang lain yaitu Firefly/Kunang-kunang.
Firefly/Kunang-kunang adalah serangga yang termasuk dalam ordo kumbang yang memiliki ciri khas dapat mengeluarkan cahaya melalui reaksi kimia di tubuhnya (Bioluminescence). Ada beberapa fungsi dari cahaya kunang-kunang, yaitu untuk berkomunikasi, mencari pasangan, menghalau predator, dan memikat mangsa. Keberadaan kunang-kunang juga dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan. Jika populasi kunang-kunang turun drastis, maka itu dapat menjadi indikator adanya polusi, kerusakan habitat, atau perubahan iklim.
Dalam budaya Jepang, kunang kunang merupakan metafora untuk Romantisme, dan juga Jiwa - jiwa yang telah gugur (Grave of the Fireflies, anyone...). Di Jepang ada festival bernama Hotaru-Gari yang berarti "melihat kunang-kunang". Pada saat musim panas baru saja dimulai, orang Jepang akan datang untuk melihat serangga mungil ini menerangi malam seperti lampion yang terbang ke angkasa. Festival ini menunjukkan betapa kunang - kunang dikagumi dan dihargai. Mereka menjadi simbol harapan dan keindahan dalam kegelapan.
Jadilah seperti kunang-kunang di mana kita menjadi terang dan bermanfaat bagi orang lain. Jika kunang-kunang tidak bercahaya maka dia tidak ada gunanya lagi. Jadilah seperti kunang-kunang di mana keberadaanmu membuat komunitasmu sehat.
Terima kasih telah membaca, Ingatlah untuk selalu mencari sumber cahaya yang benar. Jangan terpikat dengan sumber cahaya yang semu dan jadilah terang! Sampai jumpa di lain kesempatan!
Written by: Admin ST-Rex
Lyric Oh My Love - Rexy Susanto
By : Story LinerOh My Love - Rexy Susanto
Forever and ever I'll be your man,
Oh My love, Grow with me, don't forget,
Reff:
I'll lead you on an adventure,
I will be there even though the storm is raging,
and when our time is ending
'Cause you're my love, my precious,
You make my world so joyful,
For now let's haste my love,
Verse 2:
Oh My love, lean on me, don't be shy,
Oh My love, close your eyes, don't worry,
Bridge:
I don't know what tomorrow will hold
But one thing I know for sure, everytime I'm with you
Forever and ever I'll be your man,
Nottaker
By : Story Liner
Nottaker, begitulah namaku disebut. Di masa hidupku aku memiliki hobi mencatat. Mencatat apa tanyamu? Mencatat setiap perbuatan buruk orang –orang. Ditambah dengan kemampuanku mengingat kejadian dengan sangat detail, aku didaulat menjadi pencatat nomor satu di dunia yang fana ini. Hingga akhirnya kematian menjemputku, dan ternyata aku diberi tugas menjadi pencatat perbuatan manusia hmm.
“Sudah selesai pengenalannya? Kau melebih – lebihkan pencapaianmu, menyebut dirimu pencatat nomor 1? Sombong kamu nak!” Kata – kata dari гласник mengusikku. Siapa гласник tanyamu? (atau sebut saja Nic, nama sebenarnya) dia adalah malaikat yang mengurusku ketika aku sampai disini, di dunia antara hidup dan mati.
“Seseorang harus percaya diri dengan dirinya sendiri, lagipula kemampuanku adalah fakta kenapa kau protes?” Ujarku membalas celetukkannya
“Kau boleh percaya diri, tapi kau sangat salah besar Not,SALAH BESAR. Pertama kau bukan pencatat nomor 1, kedua kau bilang kau sudah mati tapi sebenarnya kau hanya koma, kau masih memiliki kesempatan untuk kembali ke dunia fana” Ujar гласник
“Oh begitu, lalu tunggu apa lagi? Kembalikan aku ke dunia”
“Tidak semudah itu Not” Balas гласник “Ada ujian yang perlu kau lewati sebelum bisa kembali” гласник menimpali “Kau masih ingat di pengenalan tadi, aku sudah memberimu tugas mencatat perbuatan manusia, lebih tepatnya mencatat perbuatan satu orang saja bernama… Siapa Hayooo Hehehe”
“Ngasih tugas malah bercanda tak jitak juga dirimu Nic”
“Santai, santai Not, nama orangnya beneran Siapa Hayooo Hehehe”
“Mana ada nama orang seperti itu!””
“Jangan tanya saya, tanya sama orang tua atau si authornya” Protes гласник “Nama X Æ A-Xii aja ada apalagi nama Siapa Hayooo Hehehe” Ucap гласник yang menujukan kekesalannya ke Nottaker dan Author (iye maaf).
“Ok jadi tugasku adalah mencatat orang ini kemudian aku bisa kembali begitu kan?” Tanyaku kepada гласник
“Benar sekali” Jawab гласник “Tapi kau akan terus mencatat hingga kau belajar apa yang Sang Pencipta ingin kau pelajari” lanjut гласник dengan raut wajah misterius “Sekarang pergilah, kau harus mempelajari ini sendiri”
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekarang tugasku adalah mengikuti Siapa Hayooo Hehehe, atau kita sebut Hayo saja. Hayo adalah remaja, masih anak sekolah, 1 SMA. Melalui pengamatanku sejauh ini, Hayo adalah pembohong besar. Ketika guru meminta tanda tangan orang tuanya di lembar ujian Hayo yang nilainya Kecil, Hayo memalsukan tanda tangan orang tuanya. Ketika Hayo diberi surat oleh BK untuk memanggil orang tuanya, yang datang malah sopirnya yang menyamar jadi orang tuanya (dan nggak ketahuan!). Hayo juga tidak setia ke pacarnya, bilangnya cuma sayang pacarnya seorang, eh ternyata punya selingkuhan di sekolah lain. Kalau yang aku catat dari ucapan Hayo sendiri, dia ingin punya pacar dari 10 sekolah berbeda dalam waktu bersamaan. Benar – benar keterlaluan. Jika aku harus menulis semua yang aku catat maka akan terlalu panjang cerita ini (mungkin perlu kuceritakan dia pernah menipu guru kimianya hingga nilai ulangannya dari 20 menjadi 75 sehingga nggak jadi remedial).
Suatu hari Hayo mengikuti retret disekolahnya. Sepertinya kebaktian di retret sekolahnya sangat menyentuh hatinya sehingga Hayo bertobat. Hayo mulai mengakui kesalahannya ke orang tuanya, tentu dia dimarahin habis-habisan dan aku bahkan salut dengan keberaniannya untuk mengaku. Hayo juga menceritakan penipuannya ke Guru BK. Untungnya Guru BK tidak memarahinya dan malah mengapresiasi kejujurannya (tapi aku masih bingung kok bisa ketipu sama supir). Pengakuan ke pacar dan selingkuhan – selingkuhannya cukup berakhir tragis. Tak hanya diputusi, Hayo juga menerima 10 tamparan di pipi kanan dan 10 tamparan di pipi kiri. Aku rasa hukumannya masih kurang tapi ya sudahlah. Sepertinya aku sudah mempelajari sesuatu, saatnya memanggil гласник!
“Hei Not, apakah kau sudah mempelajari sesuatu setelah mengikuti Siapa Hayooo Hehehe?” Tanya гласник
“Ya aku sudah mempelajari sesuatu yang sudah aku tahu sebenarnya” Balasku dengan bangga
“Hooo sombong ya, katakan apa yang sudah kau pelajari Not?” Tanya гласник menantangku
“Mudah sekali, bahwa setiap orang ada kesempatan untuk bertobat, ya walaupun menurutku dia belum mendapat hukuman yang setimpal”
“Hahaha sudah sombong salah lagi, ya jawabanmu memang hamper benar tapi bukan itu”
Aku mulai berpikir keras, apa jawabannya? Bukankah jawabanku itu adalah jawaban sebenarnya? Aku mencoba mencari jawaban yang lain.
“Umm… tidak boleh selingkuh?” Tanyaku ragu – ragu
“Ya memang tidak boleh selingkuh, tapi jawabanmu sudah melenceng jauh dari jawaban yang diinginkan” Jawab гласник
“Errr… tidak boleh memalsukan tanda tangan?” Tanyaku masih ragu – ragu
“Kurang tepat, masih melenceng jauh, sepertinya kau masih perlu mencatat lagi”
Aku mulai frustrasi. Apa jawabannya??! Dalam rasa frustrasiku kukoyakkan catatanku tentang Hayo. Namun aku melihat гласник tersenyum. Apa dia tersenyum karena aku gagal, atau jangan – jangan?!
“Yang Sang Pencipta inginkan aku pelajari adalah untuk… membuang catatan ini? Untuk tidak mencatat perbuatan Hayo?” Tanyaku ragu – ragu, ini adalah kesempatan terakhirku
“Ya kau benar, selamat Nottaker kau berhasil”
Aku tak percaya ternyata jawabanku benar, namun aku masih penasaran akan penjelasannya.
“Nic bisakah kau jelaskan padaku?”
“Aku suka gaya bicaramu sekarang, tidak sombong lagi” jawab гласник “Terkadang kita berpikir kita sudah mengampuni, namun di lubuk hati terdalam kau masih mengingat – ingat kesalahan mereka dan tidak mau berdamai dengannya.” Lanjut гласник “Aku tahu kau memiliki ingatan yang bagus Not, yang membuatmu masih mengingat kesalahan – kesalahan orang di masa lampau, jangan ungkit – ungkit lagi Not, sama seperti Sang Pencipta yang tidak mengingat ingat kesalahan manusia yang bertobat sepenuh hati, perbuatlah demikian Not”
“Itu adalah hal yang sulit Nic” Balasku
“Ya itu adalah hal yang sulit, tapi tidak mustahil karena Sang Pencipta akan menyertai. Saatnya kembali ke awal Not, menghapus semua catatan dan membuka lembaran yang baru” Ucap гласник
Hari ini aku mempelajari sesuatu, untuk mengampuni dengan tidak mengingat – ingat lagi pelanggaran orang kepadaku. Berat rasanya tapi tidak mustahil. Beginilah kisahku, jika ingin kurangkum maka ada beberapa hal yang bisa diambil:
1. Mengampuni kesalahan dengan menghapus catatan –catatan keburukan, memulai dari awal membuka lembaran baru
2. Jangan memalsukan tanda-tangan
3. Jangan selingkuh, setia sama 1 pasangan aja.
4. Tolong ya kalau kasih nama jangan aneh – aneh! (iye maaf)
FIN




%20Instagram.png)













