Popular Post

Tampilkan postingan dengan label Cergam. Tampilkan semua postingan

Semut dan Tonggeret

By : Story Liner


Semut & Tonggeret
   Pada zaman dahulu... di siang hari yang terik, seekor tonggeret bernyanyi-nyanyi di dahan pohon. Di bawah, dilihatnya barisan semut mengangkut butir-butir beras. “Mengapa kalian bekerja begitu keras ?” tanya tonggeret. “Berteduhlah dulu dari terik matahari. Mari kita bernyanyi bersama-sama.” Semut-semut yang tak kenal lelah itu terus saja bekerja.
   “Tidak bisa,” jawab mereka. “Kami harus menyimpan makanan untuk persediaan selama musim dingin.”
   “Ah, musim panas masih panjang,” sahut tonggeret. “Masih banyak waktu untuk mengumpulkan makanan sebelum musim dingin tiba. Aku lebih senang berdendang dulu. Bagaimana kita bisa bekerja di bawah terik matahari sepanas ini !”
   Sepanjang musim panas tonggeret terus bernyanyi, dan semut bekerja. Musim gugur tiba. Daun-daun mulai rontok. Tonggeret meninggalkan dahan yang kini meranggas. Suatu pagi, ia terbangun dengan menggigil kedinginan.
   Musim dingin akhirnya tiba. Tonggeret tertatih-tatih kian kemari mencari makanan. Ia makan beberapa ranting kering, yang tersisa di tanah yang keras membeku. Lalu, salju pun turun. Tonggeret tidak menemukan apa-apa yang dapat dimakannya.
   Pada suatu sore, ketika hari sudah gelap, ia melihat secercah cahaya di kejauhan. Dengan langkah tersuruk-suruk ia menyeberangi salju yang tebal untuk mendekati cahaya itu .Ia mengetuk pintu
 “Tolong, bukakan pintu. Aku kelaparan. Berilah aku makan !” Seekor semut melongok dari jendela.
 “Siapa ? Siapa itu ?”
 “Aku tonggeret.Aku kedinginan dan kelaparan, dan tidak punya tempat berteduh.”
“Tonggeret ? Oh, ya aku ingat. Waktu itu kami sedang bekerja keras untuk menghadapi musim dingin. Apa kerjamu selama itu ?”
“Kerjaku ? Wkatu itu aku bernyanyi. Angkasa dan bumi kupenuhi dengan nyanyianku.”
“Bernyanyi, ya ? “ sahut semut.”Nah, sekarang cobalah menari !”

The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Pemain Musik Kota Bremen

By : Story Liner

Pemain Musik Kota Bremen
   Dahulu kala... seekor keledai tua diperlakukan secara kasar oleh tuannya. Karena tidak tahan menanggung penderitaan itu, ia memutuskan untuk kabur. Keledai mendengar bahwa di Bremen dicari penyanyi-penyanyi untuk kelompok musik kota itu. Keledai merasa ringkikannya cukup bagus, maka ia yakin pasti diterima.
   Ditengah jalan ia bertemu dengan seekor anjing kurus. Keledai mengajak anjing itu, “ Ayo, ikut aku ! Engkau pasti diterima, asalkan engkau dapat menggonggong dengan baik !”
   Beberapa waktu kemudian, ikut bergabung juga seekor kucing tua yang sudah tidak gesit lagi. Tiga sekawan ini meneruskan perjalanan ke kota. Di depan sebuah rumah pertanian, mereka bertemu dengan seekor jago yang sedang memekikkan kokoknya ke langit.
“Bagus benar kokokmu ! Mengapa engkau begitu gembira ?”
“Gembira ?” sahut jago itu dengan mata berlinang-linang .”Aku akan direbus dan dimasak menjadi gulai. Maka, hari ini aku ingin menyanyi sepuas hati karena besok aku sudah mati !” Keledai berkata kepadanya, “ Ayo, kabur saja bersama kami! Dengan suaramu yang bagus engkau akan menjadi terkenal di Bremen !”
   Jumlah mereka menjadi empat sekarang. Perjalanan masih jauh dan malam segera tiba. Mereka sangat ketakutan. Mereka berada di sebuah hutan lebat.
   Tiba-tiba di kejauhan terlihat cahaya. Cahaya itu datang dari sebuah pondok. Perlahan-lahan mereka merangkak mendekati jendela pondok itu. Keledai menumpangkan kaki pada ambang jendela. Anjing melompat ke punggung keledai,sedangkan kucing naik ke punggung anjing. Jago terbang, lalu bertengger di atas kucing. Keempat binatang ingin melihat apa yang ada di dalam.
   Pondok itu ternyata tempat persembunyian segerombolan perampok. Mereka sedang berpesta pora untuk merayakan rampokan mereka. Keledai dan ketiga sahabatnya menjadi sangat bersemangat ketika mereka melihat makanan di meja.

   Kepala keledai melongok masuk ke dalam jendela sehingga kawan-kawannya terlempar menimpa lampu. Lampu padam. Ruangan menjadi gelap dan gaduh, keledai meringkik karena hidungnya luka tergores kaca, anjing menyalak dan kucing memeong. Jago pun berpetok-petok.
   Para perampok terkejut, lalu lari sambil berteriak, “Hantu ! Hantu !” Keempat binatang itu melahap sisa makanan sampai kenyang.
   Selanjutnya, ketika empat sekawan itu tertidur, salah seorang perampok kembali dengan mengendap-endap ke pondok itu untuk melihat apa yang terjadi. Ia membuka pintu, lalu masuk, dan melangkah menuju perapian sambil menggenggam pistol. Ia melihat mata kucing bersinar di kegelapan, dan mengiranya bara api. Ia mengulurkan sebatang lilin ke mata itu, dan seketika kucing itu mencakar mukanya. Ia terjengkang menjatuhi anjing, sedangkan pistolnya terlontar dari tangannya, lalu meletus. Gigi tajam anjing mencengkam betisnya. Keledai meyepak keras-keras sehingga penjahat itu terlempar ke luar pintu.
“Lari ! Lari !” teriak permapok itu. “Di dalam ada nenek sihir yang mencakar mukaku,ada jin yang menggigit kakiku, dan ada hantu yang memukul pantatku dengan tongkat besar ! Lalu...” Tetapi kawan-kawannya tidak mendegarnya lagi. Mereka sudah lari tunggan-langgan ketakutan.
   Dengan demikian, keledai, anjing, kucing dan jago menempati rumah itu. Mereka menemukan uang yang ditinggalkan para perampok. Dengan uang itu  mereka dapat membeli makanan, dan mereka hidup bersama-sama sampai bertahun-tahun

The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur

By : admin-ST-Rex



Sidang Para Tikus

By : Story Liner

Sidang Para Tikus

   Pada Suatu hari... ada seekor kucing besar. Ia sering berkeliaran di peternakan. Setiap kali ia datang, tikus-tikus menjadi kalang kabut. Tak seekor pun berani meninggalkan liangnya. Tikus – tikus takut kalau-kalau jatuh ke dalam cengkeraman binatang bengis itu.
   Para tikus sepakat untuk berkumpul dan membicarakan masalah itu serta mencari jalan untuk mengatasinya. Pada suatu hari, kucing itu tidak datang, maka seluruh warga tikus berkumpul di ruang rapat. Mereka yakin bahwa mereka sanggup memecahkan masalahnya, maka masing-masing mengajukan usul :
   “Mari kita buat perangkap raksasa !” usul salah satu tikus. Tikus lain segera menyahut : “ Bagaimana kalau kita racuni dia ?” Tetapi, tidak ada yang tahu racun apa yang dapat mematikan kucing. Ada usul lain : “sebaiknya kita cabut semua giginya,lalu kita potong semua kukunya, supaya ia tidak berbahaya lagi !” Usul ini juga tidak disetujui.
   Akhirnya,tampil seekor tikus yang lebih pintar dari yang lain.Ia merayap ke lampu yang menerangi ruangan itu. Dibunyikannya giring-giring dan minta supaya hadirin tenang : “Kita ikatkan giring-giring ini pada ekor si kucing. Dengan demikian, kita akan selalu tahu di mana ia berada. Kita akan melarikan diri sebelum ia mendekat. Tikus yang paling lamban dan paling lemah pun akan mendengar ia datang dan dapat menyelamatkan diri !”
   Usul tikus yang bijaksana itu disambut dengan tepuk tangan semua memuji gagasan cemerlangnya.
“Giring-giring itu harus kita ikatkan erat-erat supaya tidak lepas !”
“Ia tidak akan datang diam-diam dan mengejutkan kita lagi !”
   Tikus pintar itu membunyikan giring-giring sekali lagi supaya tikus-tikus itu tenang. “ Sekarang, kita harus menentukan siapa yang bersedia memasang giring-giring ini pada ekor kucing ?” katanya. Ruangan menjadi hening. Lalu,mulai terdengar bisik-bisik : “ Aku tidak bisa, soalnya...”
“Aku ? Jangan !” “Aku mau,tetapi...”
“Jangan,jangan aku ...”
“Aku juga jangan !”
   Tak seekor pun berani melaksanakan rencana itu. Maka sidang dibubarkan tanpa ada keputusan. Memang mengatakan gagasan cemerlang itu mudah, tetapi melaksanakannya jauh lebih sulit....


The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Anjing yang Loba

By : Story Liner

Anjing Yang Loba

Pada suatu hari... seekor anjing berhasil mencuri sepotong daging di pasar. Daging itu digondolnya ke hutan untuk dilahapnya sendiri, tanpa terganggu. Ia sampai di tepi sungai yang sangat jernih airnya. Secara kebetulan ia melihat pantulan mukanya di air. Ia tidak tahu bahwa ia sedang melihat dirinya sendiri. Ia mengira melihat seekor anjing lain yang menggondol daging sekerat besar.
“Akan kurebut dagingnya,” pikir anjing loba itu. Ia pun terjun ke air. Begitu ia mencebur, tentu saja pantulan itu hilang dan anjing lain bersama dagingnya tak tampak lagi.
Waktu itu ia tersadar bahwa ketika ia menyalak untuk menakuti-nakuti anjing yang lain itu, daging curian yang digondolnya lepas. Arus sungainya deras, dan daging cuiran itu terbawa hanyut. Maunya mendapat dua, sekarang malah tak punya apa-apa.


The End


info: Loba = Tamak;Serakah

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

Kucing Bersepatu

By : Story Liner

Kucing Bersepatu

Dahulu kala.... seorang pemilik penggilingan meninggal dunia.Penggilingan itu diwariskan kepada anak sulungnya,keledainya untuk anak kedua, dan si bungsu mendapat bagian seekor kucing

            Si Sulung mulai menjalankan usaha penggilingan itu. Anak kedua pun pergi dengan keledainya untuk mengadu untung... Si bungsu duduk tercenung di atas batu dan mengeluh
“Wah, kucing.Untuk apa kucing ?” Namun, kucing itu mendengar keluhannya dan berkata.
“Jangan khawatir, Tuan ! Apa yang tuan pikirkan ? Aku kurang berharga daripada penggilingan yang hampir bobrok itu atau seekor keledai tua ? Beri aku jubah,topi berhias bulu, karung dan sepatu, maka Tuan akan melihat apa yang dapat aku perbuat.”
Si Bungsu memenuhi semua permintaan itu. Dengan penuh rasa percaya diri, kucing berangkat sambil berkata, “Jangan murung, Tuan ! Sampai jumpa lagi”
Di Jalan Kucing menangkap seekor kelinci liar gemuk,lalu dimasukkannya kelinci itu dalam karung. Ia berlari menuju istana.Diketuknya pintu gerbang, lalu ia menghadap Raja

Sambil mengankat topi dan membungkuk dalam-dalam, ia berkata
“ Duli Tuanku, Pangeran dari Karabas yang termahsyur itu mengirim kelinci gemuk yang bagus ini sebagai persembahan bagi Tuanku !”
“Wah.” Kata Raja, “Terima kasih banyak !”
Keesokan harinya, kucing itu datang lagi dengan membawa beberapa ekor ayam hutan. “ Pangeran dari Karabas yang gagah berani mengirimkan persembahan ini.” Demikian katanya.
Pada hari-hari berikutnya. Kucing Bersepatu secara teratur datang ke istana dengan membawa kelinci,trewelu,ayam hutan dan burung. Semua itu dipersembahkannya kepada Raja atas nama Pangeran dari Karabas. Orang-orang di istana mulai membicarakan bangsawan yang mulia ini.
“Ia pasti pemburu yang hebat !” kata seseorang. “Ia pasti sangat setia pada Raja.” Kata seorang yang lain. Dan yang lain lagi. “Tetapi siapakah dia ? Saya belum pernah mendengar nama itu “
Ratu bertanya kepada Kucing Bersepatu. “ Apakah tuanmu itu muda dan tampan”
“Oh ya, dan dia kaya sekali” jawab Kucing Bersepatu. “Pangeran akan sangat senang kalau Tuanku Raja sudi datang ke purinya.”
Kucing Bersepatu kembali ke rumah tuannya, dan berkata bahwa Raja dan Ratu akan datang berkunjung.
“Apa ?” kata pemuda itu, “ Lalu, apa yang akan kita lakukan ? Begitu melihatku mereka akan tahu betapa miskinnya aku ini.”

“Serahkan saja semua kepadaku.” Jawab Kucing Bersepatu. “ Aku punya rencana.” Beberapa hari lamanya Kucing Bersepatu yang cerdik itu terus mempersembahkan hasil buruan. Suatu hari, ia mendengar bahwa Raja dan Ratu akan mengajak Sang Putri berkeliling dengan kereta pada siang itu juga.
Dengan cepat ia kembali ke tuannya. “ Tuan,bersiap-siaplah!” katanya. “Rencanaku itu harus dilaksanakan sekarang. Tuan hari ini harus berenang di sungai.”
“Tetapi aku tak dapat berenang !” jawab pemuda itu.
“Tidak apa-apa,” kata kucing. “Percaya saja kepadaku !” Kucing Bersepatu mengajaknya ke tepi sungai. Ketika kereta Raja muncul, Kucing Bersepatu mendorongnya ke sungai.
Kucing Bersepatu berteriak, “ Tolong ! Pangeran dari Karabas kelelap ! “ Raja mendengar teriakan itu dan memerintahkan pengawalnya untuk menolong. Mereka tiba tepat pada waktunya untuk menyelamatkan pemuda malang itu. Raja, Ratu, dan Putri sibuk menghangatkan badannya.
Ratu bertanya kepada Putri, “Tidak inginkah engaku menikah dengan pemuda setampan ini ? ”
“Ingin sekali !” jawab Putri. Tetapi, Kucing Bersepatu mendengar kata-kata Raja, bahwa mereka mau menyelidiki dulu apakah ia memang kaya.
Kucing Bersepatu berkata, “Kaya ? Ia kaya raya ! Semua tanah yang Tuanku lihat ini adalah miliknya. Demikian pula puri itu ! Datanglah berkunjung ! Saya tunggu di puri !”
Kucing Bersepatu bergegas lari ke arah puri. Ia berteriak kepada para petani yang bekerja di ladang. “Jika seseorang bertanya siapa tuanmu, jawablah Pangeran dari Karabas !” Maka, ketika kereta Raja lewat, para petani berkata kepada Raja bahwa tuan mereka ialah Pangeran dari Karabas.

Sementara itu, Kucing Bersepatu telah sampai di puri. Puri itu dihuni oleh raksasa penyihir yang sangat kejam. Sebelum mengetuk pintu, Kucing mengingatkan dirinya sendiri, “Aku harus sangat berhati-hati kalau ingin keluar dari sini dengan selamat !” Ketika pintu dibuka, Kucing Bersepatu membuka topinya dan berseru, “Hormat saya, Tuan Raksasa !”
“Mau apa, kucing ?” tanya raksasa dengan galak.
“Duli Tuanku, saya mendengar Tuan memiliki kekuatan besar. Kata orang Tuan dapat berubah menjadi singa atau gajah.”
“Itu memang benar sekali,” kata raksasa itu, “lalu, kenapa ?”
“Wah,” kata Kucing Bersepatu. “Tetapi, saya berani bertaruh, Tuan tak dapat berubah menjadi makhluk yang sangat kecil, katakanlah seekor tikus.”
“O, ya ? Coba, lihat ini !” jawab raksasa itu, dan dengan cepat ia berubah menjadi seekor tikus kecil. Secepat kilat Kucing Berseaptu melompat menangkap tikus itu dan memakannya utuh-utuh. Kemudian ia berlari ke pintu gerbang puri, tepat ketika kereta Raja berhenti di situ. Dengan membungkuk, si kucing berkata, “Duli Tuanku, selamat datang di puri Pangeran dari Karabas !” Raja, Ratu, Putri dan si pemuda anak pemilik penggilingan tadi turun dari kereta. Raja lalu berkata :
“ Pangeran, Anda seorang pemuda tampan, baik hati, dan masih muda. Anda memiliki tanah luas dan  puri indah. Katakan kepada saya, apakah Anda sudah beristri ?”
“Belum,” jawab anak muda itu. “ Tetapi, sebenarnya saya ingin punya istri,” sambungnya sambil memandang sang Putri. Putri itu pun tersenyum kepadanya.
Untuk menyingkat cerita, anak  pemilik penggilingan yang kini bernama Pangeran dari Karabas itu menikah dengan sang Putri dan hidup berbahagia di puri. Dan acap kali Kucing Bersepatu mengedipkan mata sambil berbisik, “Apa kataku, Tuan, saya jauh lebih berharga daripada seekor keledai tua dan penggilingan yang hampir bobrok, bukan ?”


The End

Sumber : Cergam - Untaian Mestika Kisah-Kisah Termahsyur
By : admin-ST-Rex

- Copyright © Storyline - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan - Edited by StoryLiner -